Dita bomber gereja Surabaya disebut keponakan anggota jaringan bom Bali I
Dita Oepriarto, disebut-sebut memiliki hubungan kerabat dengan Sukastopo, anggota jaringan bom Bali I. Sukastopo juga memiliki anak yang terlibat peristiwa bom Bali I yaitu Amin Abdullah. Amin ditangkap pada tahun 2002. Jaringan Sukastopo ini adalah jaringan lama. Sedangkan Dita disebut jaringan baru.
Dita Oepriarto mengajak serta istri dan anaknya dalam aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Kota Surabaya, Minggu (13/5). Dia menjadi otak sekaligus eksekutor bom tiga gereja Surabaya.
Tidak banyak yang tahu bahwa Dita Oepriarto, disebut-sebut memiliki hubungan kerabat dengan Sukastopo, anggota jaringan bom Bali I. Hal ini diungkapkan adik pelaku bom Bali I, Amrozi yakni Ali Fauzi Manzi, dalam diskusi publik di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5).
"Dita ini keponakan Sukastopo. Sukastopo ditangkap 2002 akhir karena masuk jaringan bom Bali satu. Teroris melahirkan teroris," jelas adik kandung Amrozi dan Ali Imron ini.
Sukastopo juga memiliki anak yang terlibat peristiwa bom Bali I yaitu Amin Abdullah. Amin ditangkap pada tahun 2002. Jaringan Sukastopo ini adalah jaringan lama. Sedangkan Dita disebut jaringan baru.
"Genetiknya nyambung," ujarnya.
Ali Fauzi yang juga mantan kepala instruktur perakitan bom Jemaah Islamiah (JI) Jawa Timur ini mengatakan, satu keluarga bergabung dengan jaringan teroris bukan hal baru. Ini telah berlangsung sejak 2002 sebagaimana yang terjadi pada keluarganya.
"Di 2002 dan seterusnya sudah ada keluarga yang ramai-ramai masuk jaringan (teroris), salah satunya saya," kata pendiri Yayasan Lingkar Perdamaian ini.
Ali mencoba menganalisa yang dilakukan Dita hingga berhasil membujuk keluarganya melakukan aksi bom bunuh dri. Dia yakin Dita telah melakukan radikalisasi kepada istri dan anak-anaknya sejak lama, sejak anak-anaknya berusia dini. Ia kemudian mengajak anak-anaknya melakukan aksi mematikan tersebut dengan memberikan pemahaman bahwa yang mereka lakukan akan berbuah surga.
"Yang dilakukan Dita sekeluarga bukan bimsalabim dan sudah melakukan radikalisasi usia dini baik kepada anaknya yang laki-laki dan anak-anaknya yang perempuan dan mereka sudah paham, sudah tahu, saya yakin. Kecuali pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. Tapi pelaku bom bunuh diri di gereja itu satu keluarga sudah paham dan mereka tentu ada perpisahan dan ada dialog-dialog sebelum melakukan itu," paparnya.
Banyak pihak heran dan menyebut perilaku Dita tak bisa diterima akal sehat karena mengajak keluarganya. Ali menilai itu tidak lepas dari ideologi yang dipegang dan diyakini.
"Ini bagian dari ideologi yang mereka punyai. Apapun kalau sudah tentang ideologi tentu akan sangat susah (dicegah) kecuali dengan trik-trik tertentu," kata dia.
Menurutnya para teroris ini adalah kaum yang overdosis dalam beragama. Islam adalah sebenarnya agama yang mengajarkan wasathiyah atau pertengahan.
"Agama jangan terlalu berlebihan, berbahaya. Saya dulu memahami agama secara berlebihan," ujarnya.
"Konsep Islam paling aman di tengah-tengah. Tidak lebih, tidak kurang," sambungnya.
Baca juga:
Ini kata Del Piero soal teror di Indonesia
Terduga teroris Fauzan diketahui bisnis jual beli mobil
Hidayat Nur Wahid sebut pembentukan Koopssusgab harus punya payung hukum yang jelas
Pasca bom, tempat ibadah di Jawa Timur dijaga ketat personel TNI-Polri
Teror bom tak surutkan niat masyarakat main ke pusat perbelanjaan
Ada penggeledahan rumah terduga teroris, TNI ikut jaga Mapolres Dumai