LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Digaji Rp 32 ribu per hari, pegawai TPST Bantargebang menjerit

Mereka mengaku upah tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hair.

2016-02-22 15:51:26
Kisruh sampah Bantargebang
Advertisement

Pegawai harian di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, menjerit. Sebab, upah yang diberikan oleh pengelola dari TPST milik DKI Jakarta tersebut dianggap jauh dari layak, karena hanya Rp 32 ribu per hari.

"Kami sudah protes, bahkan demo sampai tiga kali. Tapi, enggak didengar. Padahal hanya ingin naik Rp 2.000 saja, tapi enggak didengar," kata salah satu pegawai harian, Mun (45) saat ditemui di TPST Bantargebang, Senin (22/2).

Warga asli Bantargebang ini mengaku, upah yang diberikan oleh pengelola sebesar Rp 32 ribu tak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari. Misalnya, membeli beras yang saat ini harga seliter mencapai Rp 9 ribu.

"Belum lagi bayar kontrakan, anak sekolah, masih banyak lagi kebutuhan lain," kata ibu dua anak ini.

Sebelumnya, dia bekerja bersama dengan suaminya di tempat pengolahan sampah menjadi pupuk kompos tersebut. Namun, lantaran upah yang diberikan dianggap tak layak, sehingga suaminya memutuskan untuk berhenti.

"Kalau yang laki-laki mendingan kerja lain. Kalau saya daripada di rumah diam, enggak ada pekerjaan, ya mendingan kerja di sini," katanya.

Dia mengatakan, pengelola memberikan upah setiap dua pekan sekali. Selama bekerja, upah yang diberikan tersebut tak melebihi Rp 400 ribu atau sekitar Rp 384 ribu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, jumlah pegawai harian di tempat pengolahan sampah milik PT Godang Tua Jaya tersebut mencapai 70 orang mayoritas perempuan. Tak sedikit mereka banyak yang tak masuk bekerja setiap harinya.

"Kalau kerja ya gajian, kalau enggak kerja yang tidak gajian," kata dia.

Alasan yang tak masuk kerja, lantaran beban pekerjaan cukup berat. Setiap pegawai harus mengusung sampah menggunakan gerobak untuk dimasukkan ke dalam mesin pemilah. Bagi seorang perempuan, mendorong gerobak itu dirasa cukup berat.

Baca juga:
Jokowi minta agar sampah segera dimanfaatkan jadi energi listrik
'Gunung' sampah masih terlihat di sejumlah lokasi di Kota Bogor
Blokir truk sampah ke TPA Galuga, warga Bogor dirikan tenda darurat
Warga Bogor adang puluhan truk sampah menuju TPA Galuga
Jadi pilot project pengelolaan sampah, Solo belum dapat investor
Sampah cemari sumur & sawah, warga cegat truk sampah ke TPA Galuga
Tak becus kelola sampah, kontrak PT GTJ diputus Ahok bulan ini

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.