Digaji kecil, Guru TK di Gianyar nangis di depan Ketua DPRD
"Sudah bertahun-tahun menjadi guru dengan gaji rata-rata 300 ribu ini," terang salah seorang guru TK, Ni Made.
Kecewa dengan kebijakan pemerintah yang hanya memperhatikan nasib guru SD, belasan orang perwakilan guru TK honorer mengadu ke Ketua DPRD Gianyar. Kedatangan mereka merasa dianaktirikan, karena hingga kini tidak ada harapan akan diberikan status mereka.
"Kami menghadap ke ruang bapak Ketua, dengan harapan bapak mengerti kondisi kami dan mau memperjuangkan nasib kami yang sudah bertahun-tahun menjadi guru dengan gaji rata-rata 300 ribu ini," terang salah seorang guru TK, Ni Made Budianingsih sambil menitipkan air mata diikuti para guru lainnya, Rabu ( 16 / 3).
Budianingsih bersama beberapa guru TK lainnya yang hadir itu, berharap mendapatkan perlakukan yang sama dengan ratusan guru SD yang kini beberapa bulan lalu ditetapkan sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) oleh Pemkab Gianyar.
Budianingsih mengaku sangat kecewa jika Pemerintah hanya melakukan seleksi Guru Tidak Tetap (GTT) untuk guru. Apalagi, kini untuk guru-guru TK, belum ada tanda-tanda akan diberikan hak yang sama sebagai guru GTT.
"Setidaknya pemerintah menganggap kami ada. Dengan gaji sekarang ini, kami ini seolah tidak ada," ujarnya serambi mengusap air mata.
Ketua DPRD Gianyar, Wayan Tagel Winarta, mengaku terharu mendengar keluhan dari perwakilan guru TK. Diakuinya, hingga kini banyak guru TK belum mendapatkan penghasilan yang layak. Tagel pun berjanji akan menjadikan aspirasi guru TK ini sebagai PR dan lebih lanjut akan dikaji terlebih dahulu.
"Guru TK juga merupakan aset yang harus diperhatikan, baik penghasilan maupun hak-haknya. Karena itulah, kami akan menjembatani agar Pemkab Gianyar menyikapi kondisi ini," janjinya.
Baca juga:
Gaji belum dibayar, banyak guru di pedalaman Riau nyambi pekerjaan
Untuk bisa sekolah, bocah kelas 1 SD di Gianyar jadi pembantu
Menengok anak-anak Suriah belajar di bangunan bekas peternakan
Minim fasilitas, siswa SD di Kupang tiga bulan tak bisa belajar
Cerita perjuangan guru di desa terpencil, tempuh 1,5 jam ke sekolah