Derita warga Palangkaraya di tengah pekatnya kabut asap
Pekatnya kabut asap membuat warga sangat merindukan hangatnya sinar matahari.
Asap yang menyelimuti langit Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah selama sebulan ini menjadi duka tersendiri bagi warga. Sehari-hari mereka berjibaku dengan langit gelap, perihnya mata dan aroma kebakaran yang menyengat. Selain itu, warga juga merindukan matahari yang hampir tak tertutup seluruhnya oleh kabut asap.
Ketika asap mulai memenuhi seluruh kota, warga diimbau untuk menggunakan masker. Sebab tingkat pencemaran yang menembus angka 3.400 u gram per m3 sangat rentan berpotensi ISPA bagi anak-anak, wanita hamil dan para lansia.
Menurut data yang dikeluarkan RSU Dr. Doris Sylvanus, Kota Palangakaraya, per tanggal 25 Oktober semenjak asap melanda kota ini dari awal bulan yang sama, sudah 206 warga yang mengalami ISPA dan disarankan untuk rawat jalan. Sementara itu terdapat 21 yang mendapat perawatan inap di RSU.
Adapun rincian untuk pasien rawat inap yakni untuk umur 1-28 hari 1 orang, 1-4 tahun 7 orang, 4-14 tahun 4 orang, 15-25 tahun 0 orang, 25-44 tahun 4 orang, 45-64 tahun 4 orang, dan 65 tahun ke atas 1 orang. Sedangkan untuk pasien rawat jalan dengan kategori umur yang sama yakni, 1-28 hari 14 orang, 1-4 tahun 36 orang, 4-14 tahun 34 orang, 15-25 tahun 32 orang, 25-44 tahun 42 orang, 45-64 tahun 36 orang dan 65 tahun ke atas berjumlah 1 orang.
"Yang paling rentan adalah usia balita, wanita hamil dan lansia. Sejauh ini pasien yang kita tangani sejumlah itu," ujar pihak RSU Dr. Doris Sylvanus yang mewakili Kabid Humas RSU dokter Theodorus Sapta Atmadja di Palangkaraya, Rabu (28/10).
Selain terserang ISPA, warga juga rentan dengan penyakit batuk. Ketika merdeka.com mengunjungi RSU ini, sejumlah pasien terlihat mengeluhkan penyakit batuk-batuk. Hal yang sama, meski tetap mengenakan masker, derita batuk tetap dialami sejumlah warga.
Tak mau mengambil resiko, sejumlah sekolah di Kota Palangkaraya juga terpaksa diliburkan. Meski masih ada sekolah yang dibuka, namun kehadiran murid bisa dihitung.
Salah seorang orang tua murid, Misna (45) menuturkan, anaknya terpaksa belajar di rumah selama sebulan ini. Jika kondisi membaik, anaknya terkadang pergi sekolah tapi kerap pulang cepat.
"Anak saya sebulan ini begitu terus. Kadang pergi sekolah lalu pulang cepat," ujarnya.
Meski menyadari resiko terkena ISPA, sejumlah warga juga mengaku merasa kesulitan beraktivitas dengan menggunakan masker. Karena tak biasa, masker dirasakan membuat dada sesak.
"Sangat tidak enak. Masker membuat dada saya sesak. Mungkin karena tak terbiasa," aku Rusdi seorang pedagang buah di Palangkaraya.
Ketika asap mendominasi, langit serasa berbaik hati. Dua hari berturut-turut, Kota Palangkaraya diguyuri hujan lebat. Hal ini sedikit membawa kegelegaan bagi warga yang selama ini hidup dengan asap pekat.
"Ya sudah mulai membaik dari hari sebelumnya. Jangankan matahari, lampu merah saja hampir tak bisa dilihat," celetuk seorang warga.
Seperti yang disaksikan merdeka.com, kehidupan warga di dalam Kota Palangkaraya terlihat mulai normal. Aktivitas Pasar, pertokoan, dan sebagainya terlihat mulai dibuka. Untuk berjaga-jaga mereka tetap mengenakan masker.
Baca juga:
Dalam sehari, Kota Palangkaraya dua kali diguyur hujan deras
Menengok bayi orang utan selamat dari kebakaran hutan Palangkaraya
Hujan tak merata, asap pekat selimuti malam jalanan Palangkaraya
Tengah malam, Palangkaraya diguyur hujan deras
Perjuangan warga padamkan kebakaran hutan dengan alat seadanya