LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Debat capres jangan seperti cerdas cermat dan konser

Emrus Sihombing mengatakan, seharusnya kedua pasangan capres cawapres memiliki waktu menjelaskan visi misi lebih lama.

2014-06-11 07:41:00
Debat Capres
Advertisement

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengadakan debat terbuka bagi capres cawapres untuk memperkenalkan diri dan visi misi mereka. Namun pada debat perdana yang diadakan di Balai Sarbini kemarin, Senin (9/6) malam, menuai berbagai kritikan. Pasalnya, capres dan cawapres yang menjadi tokoh utama tidak memiliki banyak kesempatan berbicara.

Pengamat politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan, seharusnya kedua pasangan capres cawapres, Jokowi - JK dan Prabowo - Hatta, memiliki waktu menjelaskan visi misi lebih lama. Menurutnya, penjelasan yang disampaikan sebelum pertanyaan terlalu panjang, sebelum akhirnya pertanyaan disampaikan.

"Menurut saya dalam hal manajemen waktu kesalahan ada di KPU. Karena moderator hanya membacakan saja. Seharusnya KPU melakukan proses editing dan tidak melakukan perubahan makna pada pertanyaan. Tidak heran peserta capres cawapres menjawab tidak sesuai dengan pertanyaannya, karena narasinya terlalu panjang," ungkapnya saat dihubungi merdeka.com, Selasa (10/6) malam.

Dia menyarankan, KPU dapat membuat soal dengan narasi lebih singkat pada debat selanjutnya. Selain itu, Emrus menilai, pemilihan Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) Zainal Arifin Mochtar menjadi moderator adalah keliru. Alasannya karena Zainal membawa debat tanpa ada ekspresi dan kaku.

"Moderator itu, pertama memang membawakannya terlalu kaku, tidak ada ekspresinya dan tidak membuat suasana menjadi cair. Padahal diawal itu harus menekankan ekspresinya, agar membuat perhatian. Dia sangat normatif sekali," katanya.

Emrus mencontohkan larangan tepuk tangan kepada penonton sebagai kekakuan Zainal dalam memimpin debat. Seharusnya, dia menambahkan, moderator memberikan peringatan itu saat acara baru berlangsung. Dengan demikian maka para penonton akan menghormati permintaan tersebut dan merasa memiliki acara.

"Ketika dia (moderator) menegor tepuk tangan, seharusnya disampaikan awal sekali. Seharusnya melibatkan penonton yang berada di lokasi. Sehingga penonton merasa memiliki acara debat," ucapnya.

Sebagai solusi, Emrus menyarankan, pada debat selanjutnya sebaiknya moderatornya berasal dari wartawan ataupun presenter pembawa berita. Namun tidak sembarangan, karena harus memiliki pengalaman dan menguasai materi perdebatan.

"Moderatornya yang sudah pengalaman di bidang materi perdebatan, bisa dari wartawan atau presenter berita yang sudah berpengalaman. tidak harus akademisi. Soalnya kaku, dan tidak cocok di depan publik," tutupnya.

Seperti diketahui, KPU telah menyiapkan lima tema yang akan dipresentasikan oleh masing-masing pasangan calon, yaitu Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih dan Kepastian Hukum; Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial; Politik Internasional dan Ketahanan Nasional; Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi; serta Pangan, Energi dan Lingkungan. Pelaksanaan debat akan disiarkan secara langsung dan bergantian melalui satu stasiun televisi.

Baca juga:
Usai debat pernyataan Prabowo makin lantang
Prabowo dinilai tidak fokus dan emosional saat debat capres
Mereka yang puji debat Prabowo saat lawan Jokowi
Pakai jas saat debat, Jokowi ingin terlihat seperti presiden
Klaim Prabowo sebagai 'pembela HAM paling keras' dipertanyakan

Advertisement
(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.