Dalih masalah ekonomi, ibu muda tega hanyutkan bayinya di sungai
Dalam kondisi kalut, Rahayu pulang dan menceritakan ke keluarga kalau anaknya diculik orang.
Alasan kerap diomeli mertua dan masalah ekonomi, Rahayu Cahyaningsih, warga Jalan Rungkut Lor IX, Surabaya, Jawa Timur tega membuang anak kandungnya sendiri, Azkha Raditya Pratama yang masih berusia satu bulan. Menurut Kapolsek Rungkut, Kompol Oskar Syamsudin, ibu rumah tangga berusia 22 tahun itu menghanyutkan bayinya di Kali (sungai) Jagir dan hingga kini belum ditemukan.
"Dia (Rahayu) membuang anaknya ke Kali Jagir dari Jembatan Nginden," katanya di Mapolsek Rungkut, Rabu (7/1).
Dijelaskan Oskar, sebelum peristiwa ini terungkap, pihaknya sempat menerima laporan penculikan bayi beberapa hari lalu. Kemudian, kata dia, setelah dilakukan penyelidikan, pengumpulan data hasil penelusuran, termasuk keterangan pihak keluarga, penyidik menengarai adanya kejanggalan dari beberapa keterangan.
"Dari keterangan berbeda itu, pemeriksaan dilakukan lebih mendalam kepada pihak yang kami curigai. Kecurigaan mengarah pada pelaku, yaitu ibu kandung dari si bayi (Rahayu)," terang Oskar.
Kembali dia menjelaskan, sebelum peristiwa ini terungkap, informasi yang diperoleh pihak penyidik, pada 27 Desember 2014 lalu, Rahayu diantar mertuanya atau ayah dari Adi Setiyawan (suami Rahayu), untuk memijatkan anaknya di kawasan Rungkut Kidul.
Karena rumah si tukang pijat ramai, Rahayu mengurungkan niatnya dan kembali pulang. Setibanya di rumah, Rahayu pamitan keluar rumah sebentar bersama anaknya. Dia pergi naik angkutan umum menuju arah Nginden.
"Ternyata, sejak awal tersangka sudah ada niatan membuang anaknya di rumah kosong yang ada di daerah Nginden. Tapi karena perjalanannya tidak ada arah tujuan, akhirnya Rahayu bertemu seorang perempuan," cerita Oskar.
Kemudian, masih kata Oskar, si perempuan itu memberi Rahayu selendang untuk gendongan bayinya. "Tapi (pemberian) ditolak, dan pelaku justru meminta tas kresek besar. Karena tak ada rasa curiga, permintaan itu dituruti oleh si perempuan," katanya.
Setelah mendapat tas plastik (kresek) ukuran besar itu, Rahayu kemudian pergi mencari tempat sepi dan langsung memasukkan bayinya yang masih dalam kondisi tidur dalam tas plastik.
"Pelaku kemudian berjalan menuju Jembatan Nginden sambil membawa tas kresek berisi bayinya itu dan melemparkannya ke arah sungai," papar Oskar.
Namun, bungkusan plastik yang dibuang itu masih mengapung. Rahayu pun mencoba mengambil lagi bungkusan plastik berisi bayinya itu. Sayang, usahanya sia-sia, karena kondisi aliran sungai cukup deras. Bungkusan plastik itu terus hanyut mengikuti arus sungai.
Dalam kondisi kalut, Rahayu pulang dan menceritakan ke keluarga kalau anaknya diculik orang. "Awalnya pihak keluarga percaya, apalagi tersangka mengaku kalau menjadi korban gendam. Lalu suaminya (Adi) membawa Rahayu ke Polsek Rungkut untuk melaporkan penculikan bayi."
"Dan ternyata, dari hasil pemeriksaan serta olah TKP, banyak terjadi kejanggalan. Dari pendalaman kami (polisi), pelaku akhirnya mengaku anaknya telah dibuang sendiri ke sungai," tandas Oskar.
Sementara Rahayu sendiri, mengaku kalau perbuatannya itu dipicu masalah ekonomi dan sering menjadi biang kemarahan mertuanya. "Saya menyesal. Semoga anak saya cepat ditemukan," sesalnya singkat.
Sementara atas perbuatannya itu, pihak kepolisian akan menjerat Rahayu dengan Pasal 341 jo 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Baca juga:
Dibuang ke sampah, bayi baru lahir dimakan semut di India
Miris, nenek dan ibu ini berkomplot buang bayi baru dilahirkan
Pembuang orok di toilet rumah sakit di Solo ditangkap
Ajaib, bayi ini selamat walau nyaris seminggu dibuang di selokan
Polisi selidiki kasus pembuangan bayi di halte bus sekolah