LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Dalam Sebulan, 3 dari 45 Pasien DBD di Samarinda Meninggal

"Tiga penderita yang meninggal itu, ada di Bukuan (kawasan Palaran), di Handil Bhakti dan di Talangsari. Jadi, sekarang ada 42 penderita dirawat," ujar Joko.

2019-01-01 02:32:00
Penyakit DBD
Advertisement

Demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan virus Dengue, dan diakibatkan nyamuk Aedes Aegypti, menyebar dengan cepat di Samarinda, Kalimantan Timur. Medio November-Desember 2018, ada 45 orang penderita DBD. Tiga diantaranya, meninggal dunia.

Sepanjang hari ini, relawan kebencanaan di Samarinda, menghimpun data penderita DBD, yang dirawat di sejumlah rumah sakit. Sementara, ada 45 penderita.

Lebih 45 penderita itu, berasal dari kecamatan Samarinda Ulu, kecamatan Sambutan, hingga bertempat tinggal di kecamatan Samarinda Utara. Terbanyak, bertempat tinggal di kawasan Lempake, Samarinda Utara.

Advertisement

"Kami catat hari ini, ada 8 penderita asal Lempake. Setidaknya ini menjadi bisa menjadi perhatian serius pemerintah, melalui instansi terkait, semisal melakukan fogging," kata salah satu koordinator relawan Info Taruna Samarinda, Joko Iswanto, kepada merdeka.com, Senin (31/12) malam.

Joko menerangkan, dari 45 orang penderita DBD, tiga orang di antaranya meninggal dunia. "Tiga penderita yang meninggal itu, ada di Bukuan (kawasan Palaran), di Handil Bhakti dan di Talangsari. Jadi, sekarang ada 42 penderita dirawat," ujar Joko.

Dikonfirmasi, Humas RSUD AW Sjachranie Samarinda, dr Arysia Andhini menerangkan, saat ini, RSUD AW Sjachranie merawat 10 pasien, dimana 8 orang di antaranya merupakan pasien anak, dan sisanya dewasa.

Advertisement

"Dua di antaranya pasien anak, harus dirawat di ruang PICU, karena mengalami Dengue Shock Syndrome, yang ditandai dengan suhu tubuh di bawah normal, dan nadi serta tensi menurun karena trombosit menurun drastis," kata Arysia, Senin (31/12).

Secara umum menurut Arysia, penderita DBD tidak harus dirawat di rumah sakit. "Di puskesmas biasanya melakukan perawatan pendukung, dan pemeriksaan darah. Sedangkan, untuk penanganan Dengue Shock Syndrome, hanya bisa dilakukan di rumah sakit," ujar Arysia.

Baca juga:
Unik, nyamuk Aedes Aegypti ini bisa mencegah DBD hingga Virus Zika
Dinkes Yogya lepas nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia atasi DBD
Jumlah kasus DBD di Malang meningkat
Berantas DBD, Pemkab Karangasem gelar ritual tolak bala
Terserang DBD, siswa SMK di Depok UN di rumah sakit
Ini vaksin anti-DBD pertama di dunia

(mdk/ded)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.