Cerita Ojol Dapat Order Saat Musim Hujan: Banyak tapi Risiko Berlipat-Lipat
Bagi sebagian orang, hujan adalah alasan untuk berteduh. Bagi Jaya, hujan adalah tantangan hidup yang harus dihadapi.
Hujan turun sejak pagi dan tak memberi tanda akan berhenti. Jalanan Jakarta berubah licin, genangan muncul di mana-mana, dan langit kelabu menggantung rendah di atas kepala.
Di tengah kondisi itu, Jaya S Atmaja tetap duduk di atas motornya, jas hujan menempel di badan, tangan menggenggam ponsel yang menunggu satu order masuk.
Bagi sebagian orang, hujan adalah alasan untuk berteduh. Bagi Jaya, hujan adalah tantangan hidup yang harus dihadapi.
Jakarta tetap bergerak meski cuaca memburuk. Klakson bersahut-sahutan, kendaraan melambat, dan air hujan memantul dari aspal.
Di balik helm yang menutup wajahnya, Jaya menghitung waktu bukan jam, tapi kebutuhan. Lima order sejak pagi belum cukup untuk membawanya pulang.
Hujan dan Pilihan yang Tak Pernah Mudah
Jaya S Atmaja sudah lima tahun menjadi ojek online. Sejak pekerjaan lamanya terhenti, motor dan aplikasi menjadi sandaran hidup.
Setiap hari, ia memulai perjalanan sejak selepas subuh dari kawasan Jakarta Timur, menyusuri stasiun, perkantoran, hingga pusat kota.
Di hari normal, ia bisa bekerja dari pagi hingga petang. Namun hujan ekstrem seperti hari ini mengubah segalanya.
“Kalau hujan begini sebenarnya berat. Badan capek, jalan licin, risiko juga besar. Tapi kalau nunggu hujan reda, bisa-bisa seharian nggak jalan. Sementara kebutuhan di rumah tetap harus jalan. Mau hujan atau tidak, keluarga tetap nunggu,” ujar Jaya.
Cuaca buruk memaksa Jaya membuat banyak penyesuaian. Ia memperlambat laju motor, lebih waspada terhadap lubang jalan yang tertutup air, dan berhati-hati pada pengendara lain yang terburu-buru. Setiap tarikan gas terasa seperti pertaruhan.
Order memang sering masuk saat hujan, tapi risikonya berlipat.
“Kalau hujan, order itu biasanya ada aja. Tapi ya itu, kita bawa motor harus ekstra pelan. Kadang lihat jalanan tergenang, kita enggak tahu itu lubang atau bukan. Salah sedikit bisa jatuh. Tapi tetap dijalanin, mau gimana lagi,” katanya.
Menekan Takut, Mengejar Kebutuhan
Banjir, hujan deras, hingga angin kencang bukan hal baru bagi Jaya. Ia pernah hampir terjatuh karena jalan licin. Rasa takut itu nyata, tapi tak pernah cukup kuat untuk menghentikannya.
“Takut itu pasti ada. Saya juga manusia mas. Apalagi kalau hujan deras, ngelihat buram, badan sudah capek. Tapi saya mikir, ini memang risiko kerja saya sebagai ojek online. Kalau saya berhenti, hari itu enggak ada pemasukan sama sekali,” ucapnya.
Di rumah, ada istri dan dua anak yang menunggu. Anak bungsunya masih duduk di bangku sekolah dasar. Itulah yang membuat Jaya tetap berada di jalan meski hujan kian deras.
“Yang bikin saya bertahan itu keluarga. Anak masih sekolah, istri di rumah. Kalau saya enggak narik, berarti hari itu enggak ada uang masuk. Jadi ya, meski takut, meski capek, tetap harus jalan,” katanya.
Dalam sehari, Jaya menargetkan penghasilan sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. Angka itu bukan soal keuntungan, melainkan kebutuhan dasar. Saat hujan ekstrem, target itu kerap meleset. Namun ia tetap bertahan, selama tubuh masih sanggup.
Di tengah cuaca ekstrem yang terus menguji, keberadaan Jaya dan ribuan ojek online lainnya menjadi potret kehidupan di sisi lain. Tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan mereka tetap bertahan demi keluarga di rumah.
Reporter Magang: Ahmad Subayu