Cerita Duka Keluarga WNI asal Bali yang Menjadi Korban Gempa Turki
Suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga Nia Marlinda, warga Negara Indonesia (WNI) asal Bali yang meninggal dunia akibat gempa Turki. Keluarga menggelar tahlilan selama tujuh hari di rumah mereka di Jalan Nangka Permai 2 Gang Drupadi, Denpasar.
Suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga Nia Marlinda, warga Negara Indonesia (WNI) asal Bali yang meninggal dunia akibat gempa Turki. Keluarga menggelar tahlilan selama tujuh hari di rumah mereka di Jalan Nangka Permai 2 Gang Drupadi, Denpasar.
Keluarga mengaku sudah mengikhlaskan kepergian Nia bersama suaminya yang berkewarganegaraan Turki dan anak mereka yang baru berumur satu tahun.
Ayah Nia Marlinda, Haji Muhammad Sukarmin mengatakan bahwa putrinya telah dimakamkan di Kahramanmaras, Turki. Begitu juga dengan menantu dan cucunya.
"Kita dapat informasi untuk dimakamkan secara baik-baik di sana. Namun, ada permintaan dari kakaknya pada saat itu ingin dikuburkan di Indonesia, tapi dari KBRI tidak memungkinkan. Kalau (jenazah) dibawa ke Indonesia berjalan terlalu lama nanti bisa 10 hari," kata Sukarmin saat ditemui di rumahnya, Jumat (10/2) sore.
Ia mengungkapkan bahwa pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergian Nia. Mereka juga akan menggelar tahlilan selama tujuh hari. "Iya kita ikhlaskan saja kubur di sana secara baik-baik. Antara di sini dan di sana hakikatnya sama yang penting keikhlasan sudah kita terima. Dia juga punya keluarga di sana dan suaminya juga di sana. Kita di sini menggelar tahlilan, bagaimana ada istiadat kita. Mulai kemarin dikubur malamnya kita tahlilan," ujarnya.
Sukarmin juga menceritakan bahwa permintaan Nia yang terakhir meminta kamarnya di lantai atas agar dipasang gambar laut, matahari dan gunung. "Kamarnya dia kan di atas, dia (minta) gambar laut, matahari, dan gunung," ungkapnya.
Komunikasi Terakhir
Nia dan suaminya semasa hidup. ©2023 Merdeka.com/Istimewa/Instagram
Sementara, ibunda Nia Marlinda yakni Bidayati Rahmat Zaelani mengatakan komunikasinya dengan Nia yang merupakan anak keduanya terjadi empat hari sebelum gempa. Ketika itu, Nia berencana pulang ke Bali di akhir tahun 2023.
"(Berkomunikasi) empat hari sebelum kejadian. Kita punya grup saudara dan di sana kita berkomunikasi karena dia mau rencananya mau pulang akhir tahun," ujarnya.
Nia anak kedua dari lima bersaudara dan menikah dengan suaminya Yasin Calisir, seorang dosen Bahasa Inggris, pada tahun 2021. Dari pernikahan tersebut, Nia telah memiliki seorang anak bernama Barkay Azka.
"Terakhir bertemu (tahun) 2020 sebelum mereka menikah. Dia (Nia) pulang ngurus-ngurus surat dan 2021 Februari mereka menikah," ujarnya.
Sementara, perkenalan Nia dengan suaminya lewat media sosial dan akhirnya suaminya melamar Nia lalu menikah di Turki. Pihak keluarga pertama kali mendapatkan kabar anaknya menjadi korban meninggal akibat gempa Turki dari KBRI setempat.
"Kita mengucapkan terima kasih kepada pihak KBRI karena kami juga secepat itu mengirim data. Jadi mereka juga cepatlah bertindak dan akhirnya secepat itu anak kami juga ditemukan," ujarnya.
Diketahui, KBRI Ankara mengonfirmasi WNI asal Bali bernama Nia Marlinda menjadi korban meninggal dalam gempa Turki. Ia ditemukan di bawah reruntuhan di Kahramanmaras, bersama suami berkewarganegaraan Turki dan anak mereka yang baru berumur 1 tahun.
Atase Pertahanan RI di KBRI Ankara Kolonel Amir, yang memimpin tim evakuasi ke Kahramanmaras, telah memastikan pemulasaraan almarhumah. KBRI telah mengomunikasikan hal itu kepada keluarga di Indonesia.
"Almarhumah dan keluarga akan dimakamkan hari ini di Kahramanmaras," kata KBRI dalam pernyataan tertulis pada Rabu (8/2).
(mdk/yan)