LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Cerita Duka dari Lorong Wihara

Kesunyian menjadi teman. Tak ada senyuman meski perayaan Imlek di depan mata. Tanpa makanan enak dan keceriaan keluarga.

2023-01-20 18:21:23
Fotografi
Advertisement

Eng Sin (74) duduk di lantai lorong Wihara Dharma Bhakti, Jakarta Barat. Pria paruh baya keturunan Tionghoa ini biasa disapa Widodo oleh sesama pengemis 'Pekong'.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Advertisement

Kesunyian menjadi teman. Tak ada senyuman meski perayaan Imlek di depan mata. Tanpa makanan enak dan keceriaan keluarga.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Advertisement

Sudah lebih dari 30 tahun, dia hidup sebatang kara. Ditinggalkan istri dan anak-anaknya. Dia selalu teringat masa-masa hidup berkecukupan. Hingga roda nasibnya berputar.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

"Dulu saya hidup cukup dari usaha agen rokok dan distributor kue. Tapi setelah perceraian, hidup dan usaha saya mulai sepi dan terpaksa tutup," kenang Eng Sin saat ditemui di Wihara Dharma Bhakti, kemarin.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Tahun 1989, keluarga yang dibangunnya dengan kegembiraan justru berakhir duka mendalam. Hal terpuruk menimpa. Usaha bangkrut dan terpaksa menjual rumah.

"Rumah, mobil, motor saya jual. Saya stres karena sudah tidak ada tujuan hidup lagi," ucap Eng Sin dengan suara lirih.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Tahun-tahun suram dilaluinya. Eng Sin kini tak punya apa-apa. Ayah dari dua anak ini kerap berpindah tempat tinggal. Dia tinggal bersama temannya di sebuah kamar indekos.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Luas 3x3 meter. Jauh dari kata layak. Tidur beralas tikar plastik. Terkadang bagian atapnya bocor. Air hujan menemani.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Eng Sin mengais rezeki dari uang receh warga Tionghoa yang datang ke wihara. Aktivitas ini sudah dilakoni bertahun-tahun. Sekadar untuk mencukupi makan sehari-hari dan biaya indekos sebesar Rp250 ribu per bulan.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Imlek tak lagi spesial baginya. Sebab tak ada lagi orang-orang yang disayangi. Orang yang selama ini diperjuangkan, pergi meninggalkan.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

"Saya sudah pasrah, hanya bisa bertahan hidup dan menunggu meninggal doang," pilu Eng Sin.

©2023 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Eng Sin masih menyimpan setitik harapan. Berjumpa kembali dengan buah hati sebelum dirinya pergi dipanggil sang kuasa. Dia ingin merasakan Imlek yang bahagia, seperti 30 tahun silam.

Baca juga:
Berkah Imlek untuk Penjual Bandeng Musiman
Berimlek dengan Kue Keranjang
Cerita Lahirnya UU Anti-Diskriminasi di Era Presiden Gus Dur
Mencicipi Kue Yopia, Kuliner Imlek Khas Rembang yang Makin Langka
6 Kebiasaan yang Dilarang saat Imlek, Cegah Keburukan dan Kesialan
Deretan Ucapan Selamat Tahun Baru Imlek 2023, Penuh Makna dan Harapan Baik

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.