LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Cari berkah, ribuan warga berebut 3 gunungan Sekaten

Berebut gunungan merupakan tradisi dan kebiasaan untuk saling mendahului mendapatkan bagian dari gunungan.

2015-12-24 16:06:30
tradisi jawa
Advertisement

Acara puncak peringatan Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ditandai dengan Grebeg Muludan, Kamis 24 Desember 2015 atau bertepatan dengan hari Nabi Muhammad SAW. Acara yang dimulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB tersebut mengarak 3 buah gunungan yang terbuat dari beras ketan, makanan, dan buah-buahan serta sayur-sayuran.

Ketiga gunungan tersebut selanjutnya akan dibawa dari depan istana Kemandungan melewati Sitihinggil dan Pagelaran menuju masjid Agung. Usai didoakan, gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari gunungan ini akan membawa berkah bagi mereka.

Namun usai didoakan, gunungan dan estri (perempuan) yang dianggap sakral ini ludes menjadi rebutan warga yang menunggu sejak pagi. Sedangkan gunungan jaler (laki-laki) dibawa kembali ke keraton.

Berebut gunungan merupakan tradisi dan kebiasaan untuk saling mendahului mendapatkan bagian dari gunungan. Sampai diluar pendopo masjid pun hasil yang sudah ditangan masih juga direbut oleh warga yang lain. Walaupun saling sikut untuk mendapatkan bagian gunungan yang diinginkan, namun membawa pulang bagian dari gunungan untuk beberapa orang dipercaya membawa berkah.

"Saya dapat wortel akan dibawa pulang dan ditanam di sawah atau lading, biar subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka," ujar Samiyem, warga Wonogiri.

"Saya dapat kacang panjang, ini sampai rumah akan saya masak sayur. Biar sehat, penyakit-penyakit kami sekeluarga bias hilang," sambung Witono warga Simo, Boyolali.

Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta KPA (Kanjeng Pangeran Aryo) Winarno Kusumo mdngatakan, Sekaten merupakan sebuah upacara keraton yang dilaksanakan selama tujuh hari. Sekaten, kata dia, berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat dalam agama Islam.

"Sekaten itu diawali dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut dimainkan atau ditabuh, untuk menandai perayaan sekaten. Pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud atau Grebeg Maulud," pungkas Kanjeng Win, panggilan akrab KPA Winarno Kusumo.

Baca juga:
Sekaten bikin macet, omset pedagang pasar darurat Klewer merosot
Maleman Sekaten bikin rusak Benteng Vastenberg, Pemkot Solo berang
Kemeriahan Tradisi Nadran ala nelayan Muara Angke
Menengok kampung batik tulis di Tegalrejo
Gelar Sekaten, Keraton Surakarta jamas gamelan
Mengenal Ujungan, ritual minta hujan ala masyarakat Banjarnegara
Puluhan pusaka usia ribuan tahun koleksi museum di Solo dijamas

(mdk/gil)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.