LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Cak Imin Sebut NU Tak Bisa Lepas Dari Politik

Kendati begitu, Cak Imin mengatakan ada konsekuensi dari pemilihan langsung yang tidak mudah. Termasuk kecenderungan pragmatisme politik yang melahirkan-produk politik yang tidak efektif.

2021-12-23 10:28:59
Muhaimin Iskandar
Advertisement

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar menilai, Nahdlatul Ulama (NU) tidak akan bisa lepas dari politik bila disebut kembali ke khittahnya. Menurutnya, NU justru menjadikan perangkat politik lebih luas.

"Kalau disebut kembali ke khittah, itu bukan berarti melepaskan diri dari politik, tetapi justru menjadikan perangkat politik lebih luas,” katanya, Kamis (23/12).


Menurutnya, sudah saatnya NU mempengaruhi kebijakan politik yang lebih transformatif untuk membawa kemajuan dan perubahan di masa yang akan datang.

Advertisement

”Kita harus membicarakan politik dalam artian yang lebih luas. Mulai dari mabadi’u khaira ummah, maqasidu syariah, sampai maslahatil ummah,” urainya.

Cak Imin menilai, istilah 'NU kembali ke khittah' justru menjadikan politik NU semakin canggih. Dia bilang, para politisi NU sudah naik kelas. Sejak era reformasi, banyak kader NU yang menjabat di eksekutif maupun legislatif.

”Karena demokrasi dan reformasi telah melahirkan kebebasan untuk menentukan arah politik yang kemudian warga NU terorganisir maupun pribadi menjadi kekuatan politik sehingga akhirnya jabatan-jabatan publik bisa diambil melalui pemilihan secara langsung,” tuturnya.

Advertisement

Kendati begitu, Cak Imin mengatakan ada konsekuensi dari pemilihan langsung yang tidak mudah. Termasuk kecenderungan pragmatisme politik yang melahirkan-produk politik yang tidak efektif.

Menurutnya, politik besar yang menjadi khittah adalah bahwa NU harus bisa membaca lebih luas lagi posisi perjuangan politiknya yang sudah tidak lagi pada level jabatan publik. Tetapi sudah level kebijakan-kebijakan publik yang efektif dan tepat dalam memenuhi tuntutan-tuntutan mabadi’u khaira ummah, maqasidu syariah, sampai maslahatil ummah sesuai visi dan misi NU.



”Dari situlah saya yakin peran politik NU sangat cerah. Masa depan NU sangat luas apabila semua kekuatan solid di dalam satu kekuatan yang kokoh. Kalau tidak, akan terulang lagi perceraiberaian seperti yang terjadi di masa Fusi di dalam sebuah parpol maupun di masa proses marginalisasi politik Orde Baru yang akhirnya tidak produktif sama sekali,” urainya.

Menurutnya, perjuangan NU akan sangat efektif dilakukan melalui jalur politik. Baik perjuangan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial bahkan keagamaan.

Dia mencontohkan sejak era Mendikbud Muhammad Nuh dan dilanjutkan M Nasir sebagai Menristekdikti, perguruan tinggi NU berkembang sangat pesat meski masih jauh dari target NU.

”Inilah efektivitas kekuasaan dalam melahirkan target-target perjuangan. Justru khittah tadi yang membuat kita memiliki peran perjuangan di pemerintahan, kenegaraan, dan politik,” tandas Wakil Ketua DPR itu.

Baca juga:
Yaqut Cholil Qoumas Pastikan Tidak Ada Intervensi dari Kemenag di Muktamar NU ke-34
Wapres Ma'ruf Amin Paparkan Kriteria Seorang Rais Aam PBNU
Yahya Staquf Soal Persaingan dengan Said Aqil: Habis Itu Kita Bareng-bareng Lagi
Hasto Kristiyanto: Presiden Jokowi dan PDIP Tak Intervensi Muktamar NU
Erick Thohir Bangga Muktamar NU Digelar di Kampung Ayahnya di Gunung Sugih
Yenny Wahid Sebut Dua Kandidat Ketum PBNU Punya Kedekatan dengan Gus Dur
Saling Klaim Dukungan di Muktamar NU

(mdk/fik)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.