Busyro: Jika jadi parpol konsentrasi Muhammadiyah akan terpecah
Busyro ingin Muhammadiyah tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai gerakan Islam, dakwah dan berwatak tajdid.
Calon Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas tak sepakat jika Muhammadiyah menjadi partai politik. Sebaiknya Muhammadiyah tetap berkonsentrasi sebagai organisasi dakwah.
"Jadi enggak perlu buat parpol, kalau buat Parpol konsentrasinya terpecah," kata Busyro saat ditemui di sela-sela muktamar di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, Rabu (5/8).
Busyro ingin Muhammadiyah tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai gerakan Islam, dakwah dan berwatak tajdid. Tajdid adalah pembaharuan.
"Parpol itu harus diposisikan sebagai mitra untuk memperkuat demokrasi. Oleh karena itu Muhammadiyah harus memposisikan prinsip justice for all," ujarnya.
Sebagai organisasi besar, justru Muhammadiyah punya peran penting dalam mengawal partai politik. Agar kader partai yang duduk di pemerintahan atau DPR bisa diawasi oleh Muhammadiyah.
"Buat Undang-undang yang pro rakyat, buat Perpres, Perda yang pro rakyat, anti korupsi, anti pelanggaran pencemaran lingkungan. Itulah Muhammadiyah," katanya.
Busyro juga tak sepakat jika Muhammadiyah mendukung salah satu Parpol dengan menjadikan Parpol tersebut sebagai partai utama. "Berarti ada parpol sekunder, berarti diskriminatif, padahal dakwah tidak boleh diskriminatif," tegasnya.
Baca juga:
Busyro ngaku innalillahi jika terpilih jadi ketum PP Muhammadiyah
'Sistem Muhammadiyah tak beri peluang calon di luar PP kampanye'
Jadi calon ketum, Busyro sebut pimpin Muhammadiyah itu berat
PPP sebut Muhammadiyah jadi parpol kuras tenaga dan pikiran
Muktamar ada usulan hukuman mati koruptor, ini kata Menteri Yasonna
Din sebut 4 tokoh berpeluang besar jadi ketua umum Muhammadiyah
Peserta Muktamar Muhammadiyah dikondisikan agar pilih calon tertentu