BRIN Dorong Peran Komunitas Pemulihan Pascabencana, Percepat Transformasi Berkelanjutan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya pelibatan aset komunitas dalam Peran Komunitas Pemulihan Pascabencana untuk akselerasi dan transformasi proses pemulihan yang berkelanjutan.
Kepala Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ali Yansyah Abdurrahim baru-baru ini menyoroti pentingnya aset komunitas. Ia menekankan pelibatan aset tersebut dalam upaya pemulihan pascabencana. Langkah ini bertujuan mempercepat serta mentransformasi proses pemulihan secara berkelanjutan di Indonesia.
Menurut Ali, efektivitas pemulihan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat. Kemampuan ini adalah dalam memanfaatkan kapasitas yang telah mereka miliki sendiri. Sistem sosial dan ekonomi lokal yang sudah ada perlu diperkuat sebagai fondasi.
Penguatan ini penting agar masyarakat mampu menghadapi berbagai situasi krisis di masa depan. Pemulihan harus memastikan kapasitas yang hidup di masyarakat dapat dioptimalkan. Ini menjadi kekuatan utama dalam menghadapi situasi darurat.
Optimalisasi Kapasitas Lokal dalam Pemulihan Pascabencana
Transformasi pemulihan pascabencana memerlukan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. BRIN melalui Ali Yansyah Abdurrahim menegaskan bahwa kekuatan utama terletak pada masyarakat itu sendiri. Optimalisasi kapasitas lokal menjadi kunci keberhasilan pemulihan.
Sistem sosial dan ekonomi yang telah terbentuk di tingkat lokal memiliki peran vital. Sistem ini harus diperkuat agar dapat menjadi fondasi yang kokoh. Fondasi ini akan membantu masyarakat dalam menghadapi berbagai situasi krisis yang mungkin terjadi.
Ali Yansyah Abdurrahim menekankan bahwa pemulihan tidak hanya tentang membangun kembali. Lebih dari itu, pemulihan harus memastikan kapasitas yang sudah ada di masyarakat dapat dioptimalkan. Ini sebagai kekuatan utama dalam menghadapi krisis.
Metode ABCD untuk Identifikasi Aset Komunitas
Untuk mengidentifikasi dan mengaktifkan sumber daya lokal, BRIN memperkenalkan metode Asset-Based Community Development (ABCD). Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Armansyah, menjelaskan pendekatan ini. ABCD memungkinkan identifikasi aset secara terpadu.
Metode ABCD mencakup identifikasi berbagai sumber daya di tingkat lokal. Sumber daya ini meliputi aspek manusia, sosial, alam, fisik, dan finansial. Semua terintegrasi dalam satu kerangka kerja yang komprehensif.
Pengumpulan data untuk metode ini dilakukan melalui beberapa cara. Observasi lapangan, transect walk, diskusi kelompok terarah, dan wawancara dengan masyarakat terdampak adalah beberapa di antaranya. Pemetaan aset ini menjadi dasar untuk optimalisasi.
Armansyah menambahkan bahwa pendekatan ini menekankan modal yang dimiliki setiap komunitas. Modal tersebut bisa diaktivasi tanpa hanya menunggu bantuan eksternal. Ini mendorong kemandirian dan keberlanjutan proses pemulihan.
Kekuatan Jejaring Sosial dan Pengetahuan Lokal dalam Peran Komunitas Pemulihan Pascabencana
Pada fase awal bencana, respons masyarakat seringkali digerakkan oleh kekuatan jejaring sosial. Armansyah mengungkapkan bahwa relasi keluarga, relawan lokal, dan solidaritas komunitas menjadi mekanisme utama. Ini menjaga keberlangsungan hidup di tengah krisis.
Contoh nyata terlihat di sejumlah wilayah kajian seperti Sumatera Barat dan Aceh. Di tingkat nagari dan gampong, jaringan internal dan eksternal dimanfaatkan secara efektif. Tujuannya adalah mempercepat distribusi bantuan kepada yang membutuhkan.
Selain itu, pengetahuan lokal juga memainkan peran krusial dalam pemulihan. Pengetahuan ini meliputi pengelolaan pangan, perlindungan sumber daya, hingga strategi adaptasi terhadap risiko bencana. Ini menunjukkan kearifan lokal yang berharga.
Basis penghidupan juga berkontribusi signifikan dalam proses pemulihan. Lahan pertanian, kebun, dan akses terhadap sumber daya air menjadi penopang utama ekonomi. Terutama ketika dikembangkan melalui diversifikasi mata pencarian berbasis komunitas.
Sumber: AntaraNews