BPBD Agam Catat Lima Kecamatan Dilanda Banjir, Longsor, dan Pohon Tumbang Akibat Hujan Deras
BPBD Agam melaporkan lima kecamatan di daerah itu dilanda berbagai bencana alam seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang setelah hujan deras. Simak detail dampaknya.
Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dilanda serangkaian bencana alam serius akibat curah hujan tinggi disertai angin kencang yang terjadi pada 22-23 November 2025. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam mencatat setidaknya lima kecamatan terdampak. Bencana yang terjadi meliputi banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, serta jalan amblas di berbagai lokasi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghapur, menjelaskan bahwa dampak bencana ini sangat signifikan. Beberapa rumah warga terendam lumpur, akses jalan terputus, dan lahan pertanian mengalami kerusakan parah. Pihak BPBD Agam bersama masyarakat setempat telah berupaya melakukan penanganan awal di beberapa titik terdampak.
Meskipun demikian, beberapa lokasi masih memerlukan penanganan lebih lanjut mengingat cakupan dan tingkat kerusakannya. Abdul Ghapur memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Pihak berwenang masih terus melakukan pendataan kerugian materiil akibat bencana alam yang melanda wilayah Agam ini.
Dampak Bencana di Kecamatan Banuhampu dan Tanjung Raya
Di Kecamatan Banuhampu, bencana banjir melanda Jorong Sungai Buluah, Nagari Cingkariang. Banjir tersebut merendam tiga rumah warga dan meninggalkan lumpur tebal, bahkan menyebabkan dapur rumah retak. Abdul Ghapur menyatakan, "Air sudah mulai berkurang dan telah kami bersihkan bersama pemiliknya," menunjukkan respons cepat dari warga dan BPBD.
Sementara itu, Kecamatan Tanjung Raya mengalami tanah longsor dan banjir bandang yang cukup parah di Jorong Paninjauan, Nagari Paninjauan. Bencana ini menyebabkan dua titik akses jalan penghubung Jorong Sicawan-Jorong Paninjauan tertutup total. Akibatnya, kolam renang, sawah seluas lima hektare, dan kolam bibit ikan seluas satu hektare tertimbun material longsor.
Selain itu, akses air bersih bagi warga di wilayah tersebut juga terputus akibat dampak longsor. Abdul Ghapur mengakui bahwa penanganan untuk bencana di Tanjung Raya masih belum sepenuhnya tertangani. Hal ini dikarenakan petugas BPBD Agam masih harus menyebar ke lokasi bencana lain yang juga membutuhkan perhatian.
Kerusakan di Palupuh dan Palembayan
Kecamatan Palupuh juga tidak luput dari dampak bencana alam. Sebuah pohon besar tumbang dan menutupi akses jalan nasional yang menghubungkan Bukittinggi menuju Medan, tepatnya di Jorong Palimbatan, Nagari Pasia Laweh. Beruntung, material pohon tumbang tersebut telah berhasil dibersihkan, sehingga arus lalu lintas kembali normal.
Namun, di Palupuh juga terjadi insiden jalan amblas sepanjang 25 meter dengan kedalaman sekitar 2,5 meter di Jampung Pasia-Lurah Dalam. Amblesnya badan jalan ini menyebabkan sawah seluas tiga hektare terendam. Abdul Ghapur menambahkan, "Tanah jalan yang amblas merendam sawah seluas tiga hektare dan kita telah melakukan peninjauan ke lokasi."
Di Kecamatan Palembayan, tanah longsor menutupi empat titik akses jalan provinsi yang menghubungkan Palembayan-Bukittinggi. Lokasi longsor ini berada di Jorong Gumarang dan Jorong Lubuak Gadang, Nagari Ampek Koto Palembayan. Kondisi ini menyebabkan terganggunya mobilitas warga dan distribusi logistik, dan penanganannya masih menunggu.
Penanganan Bencana di Lubuk Basung dan Upaya BPBD
Kecamatan Lubuk Basung juga mengalami bencana pohon tumbang di Jorong Sago, Nagari Manggopoh. Pohon tumbang ini sempat menutup akses jalan nasional yang menghubungkan Kota Padang menuju Pasaman Barat. Namun, material pohon telah berhasil dibersihkan, memungkinkan lalu lintas kembali lancar.
Selain itu, tanah longsor juga terjadi di Jorong Batu Hampar, Nagari Manggopoh, menutupi akses jalan kabupaten. Material longsor memiliki tinggi antara 50-100 centimeter dengan panjang 6-10 meter. Abdul Ghapur menjelaskan, "Pembersihan material telah dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dengan mengerahkan alat berat perusahaan," menunjukkan kolaborasi dalam penanganan bencana.
Abdul Ghapur menegaskan bahwa serangkaian bencana alam ini adalah akibat dari curah hujan yang sangat tinggi disertai angin kencang yang melanda Agam sejak 22 hingga 23 November 2025. Meskipun dampak kerusakan cukup luas, pihaknya bersyukur tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. BPBD Agam terus berkoordinasi untuk mendata kerugian dan memastikan penanganan bencana berjalan efektif.
Sumber: AntaraNews