LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

BNPT nilai Kepulauan Riau rentan jadi pintu masuk teroris

Radikalisme, dan terorisme adalah ancaman bagi masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan begitu banyak pulau-pulau dan suku bangsa, dan banyak pemahaman dinilai rentan disusupi paham-paham radikal.

2018-02-23 10:47:53
Terorisme
Advertisement

Radikalisme, dan terorisme adalah ancaman bagi masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan begitu banyak pulau-pulau dan suku bangsa, dan banyak pemahaman dinilai rentan disusupi paham-paham radikal.

Untuk mengantisipasi hal tersebut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus memperkuat kawasan perbatasan yang selama ini menjadi pintu keluar masuk teroris, terutama pelaku Foreign Terrorist Fighters (FTF) atau orang asing yang melakukan aksi terorisme di Indonesia.

"Kepulauan Riau ini rentan. Kenapa Kepri ini rentan? Karena kondisi geografisnya, 96 persen daerahnya perairan, hanya 4 persen daratan. Berapa banyak jalur perairan yang bisa digunakan orang untuk berlalu lalang, keluar masuk dari sini, infiltrasinya, dinamikanya luar biasa," kata Komjen Suhardi Alius dalam keterangannya, Jumat (23/2).

Advertisement

Kepala BNPT ini memberi arahan di hadapan ratusan personel Kepolisan Daerah (Polda) Kepri tentang Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme di Markas Polda Kepri, Batam, kemarin.

Mantan Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas ini mengatakan, dengan melihat kondisi geografis wilayah Polda Kepri ini maka ancaman terorisme di Indonesia tidak hanya berasal dari teroris lokal. Kembalinya WNI dari Timur Tengah yang bergabung dengan ISIS juga harus mendapat perhatian serius di wilayan ini.

"Penanganan WNI dari Timur Tengah, khususnya yang pulang dari ISIS harus lebih ketat dan super selektif. Pasalnya mereka akan sangat berbahaya bila sampai lepas ke masyarakat dan tidak terdeteksi keberadaannya jika mereka balik ke Indonesia melalui wilayah ini. Ini yang harus diwaspadai," jelasnya.

Advertisement

Melihat fonomena itu, mantan Kabareskrim Polri ini, menekankan mengenai tingginya peran dari kepolisian dalam menanggulangi hal semacam ini. Kepolisian dalam hal ini jajaran personel dari Polda Kepri dituntut untuk selalu siap untuk mengontrol terhadap tekanan yang ada.

"Polisi itu bukan pekerjaan enak, kita ini bertugas untuk mengurus limbah-limbah sistem. Begitu banyak yang harus diurus kepolisian, banyak godaan, moral dan integritas harus tinggi. Jangan karena ada godaan sedikit integritas langsung hilang, apalagi di Kepri ini yang notabene nya banyak sekali kesempatan untuk itu," ujar alumni Akpol tahun 1985 ini

Untuk itu mantan Kapolda Jawa Barat ini juga menuntut peran dari para atasan yang mengawakinya. Atasan harus bisa memberikan contoh dan dukungan yang benar untuk anggotanya karena anggota itu juga akan menilai pimpinannya

"Para pimpinan harus bisa memberikan contoh yang baik untuk anggotanya. Harus bisa menaikan moril dari anggota. Peran signifikan dari para pimpinan sangat dibutuhkan, jangan malah menjadi contoh buruk bagi anggotanya," tegasnya.

Untuk itu dia juga menekankan mengenai pentingnya wawasan kebangsaan dan jiwa nasionalisme. Hal tersebut diperlukan karena aparat kepolisian tidak menutup kemungkinan juga dapat terpapar paham radikalisme.

"Teman-teman dari kepolisian jangan merasa hebat juga, jangan mentang-mentang kita ini polisi lalu kita tidak akan terpapar. Saat saya menjadi Kapolres Depok saya punya anggota untuk ditugaskan berangkat ke Aceh, saat balik malah jadi teroris," ungkap mantan Wakapolda Metro Jaya ini.

Di akhir paparanya, mantan Kapolres Metro Jakarta Barat ini mengungkapkan harapannya bahwa dengan diadakannya arahan ini para personel Polda Kepri bisa mengambil ilmu, dan pelajaran, serta semakin memantapkan diri. Tidak hanya untuk menanggulangi terorisme, tetapi juga terkait banyak masalah yang akan terjadi.

"Kita harapkan dengan arahan ini para anggota Polda Kepri nantinya dapat menerapkan ilmu-ilmu yang telah didapat, kita sudah beritahu cara-cara identifikasi dan metode yang bisa kita gunakan dalam menanggulangi radikalisme, dan kita harapkan juga bisa menjadi guidance untuk masyarakat," tandasnya.

Baca juga:
Trauma bom, Polisi Belgia kerahkan pasukan khusus setelah dapat laporan pembunuhan
Kapolda Bali sebut Indonesia berbeda cara hadapi teroris dengan Amerika & Singapura
BNPT akan pertemukan pelaku terorisme dengan korban
Kisah eks Napi teroris jihad di Filipina hingga tobat demi keluarga
Eks napi teroris harap dengan rekonsiliasi pelaku dan korban tak lagi dendam
Selain di Islam, kelompok radikal juga ada di agama lain

(mdk/ian)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.