BKSDA Tangani Interaksi Negatif Kawanan Gajah di Pidie Aceh, Warga Terluka Ringan
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bergerak cepat menangani interaksi negatif kawanan gajah sumatra di Pidie Aceh yang melukai seorang warga. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian satwa dilindungi ini.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah mengerahkan tim khusus ke kawasan Tangse, Kabupaten Pidie. Tim ini bertugas menangani interaksi negatif yang terjadi antara kawanan gajah sumatra liar dan masyarakat setempat. Kejadian ini mengakibatkan seorang warga mengalami luka ringan saat beraktivitas di kebunnya.
Insiden tersebut melibatkan Darmawi (28) yang terluka akibat berhadapan dengan kawanan gajah di kebun duriannya pada Jumat (21/11). BKSDA kini fokus pada penelusuran keberadaan gajah dan penggiringan mereka kembali ke habitat aslinya. Upaya ini dilakukan untuk mencegah konflik lebih lanjut.
Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, menegaskan pentingnya respons cepat dalam menangani kasus seperti ini. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak menanam tanaman yang menarik perhatian gajah di jalur lintasannya. Hal ini merupakan bagian dari mitigasi interaksi negatif satwa liar.
Kronologi dan Kondisi Korban Interaksi Gajah
Interaksi negatif kawanan gajah sumatra ini terjadi di Gampong Beungga, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie. Korban, Darmawi, sedang memungut durian di kebunnya ketika bertemu kawanan gajah yang melintas. Kawanan satwa liar tersebut kemudian mengejar Darmawi.
Dalam upayanya menyelamatkan diri, Darmawi sempat terpukul belalai gajah hingga terjatuh. Beruntung, ia berhasil bangkit dan melarikan diri dari kejaran satwa dilindungi tersebut. Kejadian ini meninggalkan luka ringan pada tubuh korban.
"Korban mengalami memar di dada kiri dan pelipis mata. Saat ditemui petugas Resor Konservasi Sumber Daya Alam Pidie, kondisi korban sudah membaik," kata Ujang Wisnu Barata. Petugas BKSDA langsung mendatangi lokasi untuk memastikan kondisi korban dan melakukan identifikasi lebih lanjut.
Identifikasi ini mencakup pengecekan jalur lintasan gajah untuk memahami pergerakan mereka. Langkah ini krusial dalam upaya mitigasi dan pencegahan kejadian serupa di masa mendatang. BKSDA terus memantau situasi di lapangan.
Upaya Mitigasi dan Imbauan BKSDA Aceh
BKSDA Aceh tidak hanya menangani insiden yang sudah terjadi, tetapi juga proaktif dalam upaya mitigasi. Pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak menanam jenis tanaman tertentu di jalur lintasan gajah. Tanaman seperti pisang, singkong, dan jagung sangat disukai gajah dan dapat menarik mereka mendekat ke perkebunan warga.
"Kami juga mengimbau masyarakat melaporkan kepada petugas maupun pusat panggilan BKSDA jika melihat gajah mendekati perkebunan ataupun pemukiman masyarakat," ujar Ujang Wisnu Barata. Laporan cepat dari warga sangat membantu petugas dalam mengambil tindakan pencegahan. Ini penting untuk mengelola interaksi gajah di Pidie Aceh.
Gajah sumatra adalah satwa liar yang dilindungi dan berstatus terancam kritis menurut The IUCN Red List of Threatened Species. Keberadaan mereka hanya ditemukan di Pulau Sumatra, sehingga konservasinya menjadi prioritas utama. Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian satwa ini.
Masyarakat diimbau untuk tidak merusak hutan yang merupakan habitat gajah dan satwa liar lainnya. Selain itu, dilarang keras menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, atau memperniagakan satwa dilindungi. Pemasangan jerat atau racun yang membahayakan satwa juga dilarang dan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai peraturan perundang-undangan.
Sumber: AntaraNews