Berawal dari TKI, wanita ini sediakan sekolah untuk anak petani
Heni bisa menjadi panelis dalam acara festival sastra Internasional di Ubud yang dihadiri ratusan penulis mancanegara.
Menjadi sosok yang inspiratif bukanlah hal yang sulit. Setiap orang bisa menjadi sosok seperti itu dari mana pun mereka berasal. Seperti yang dilakukan oleh Heni Sri Sudani, mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong, yang menyediakan tenaga pendidikan untuk para anak petani.
Berawal dari cerpennya yang berjudul 'Surat Berdarah Untuk Presiden' yang mengisahkan tentang sahabatnya, juga seorang TKI yang meninggal digigit anjing, Heni bisa menjadi panelis dalam acara festival sastra Internasional di Ubud, Bali yang dihadiri ratusan penulis dari berbagai negara.
"Tulisan ini adalah untuk menyuarakan kepada dunia bahwa banyak sekali TKI yang bekerja ke luar negeri yang mendapatkan perlakuan buruk dan tanpa perlindungan dari pemerintah," jelas Heni dalam pesan elektroniknya kepada merdeka.com, Senin (20/4).
Tak berhenti sampai di situ, Heni kembali mengisi pelatihan motivasi di beberapa perguruan tinggi, juga sambil membantu mereka yang membutuhkan. Seperti bantuan yang diberikan kepada Ni Aisah, guru mengaji sukarelawan yang menderita penyakit fibrum. Dia membantu Aisah agar mendapatkan perawatan di rumah sakit swasta di Bandung, dengan bantuan dan dukungan teman-temanya dari media sosial dan dompet dhuafa.
Selain itu, Heni juga mengisi pelatihan untuk para guru di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa di Lebak Wangi, Bogor, Jawa Barat. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi referensinya dalam mendidik anak-anak petani di desanya.
Dari beberapa kampung yang kami temui dengan potensi pertaniannya yang besar, tercetuslah ide untuk membuat “Wisata Pendidikan Pertanian”. Pada 2013, kegiatan ini pun sudah berjalan dengan jumlah murid sebanyak 500 orang dari lima kampung di Bogor, Jawa Barat.
Topik pilihan: Kisah Inspiratif | Inspirasi Wanita
"Harapan kegiatan ini bisa membantu meningkatkan taraf hidup petani dan keluarganya. Lebih dari itu, saya ingin membuka mindset para petani dengan berinteraksi dengan para pengunjung dan membagikan ilmu pertaniannya kepada mereka. Dengan begitu mereka akan tahu bahwa ilmu itu berharga," imbuh Heni.
Komunitas itu pun didesain dalam berbagai program seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan sosial. Selain itu, para relawan juga akan membagikan beberapa kebutuhan petani seperti sembako, pakaian, perlengkapan salat, dan alat tulis.
Kegiatan ini juga dibantu oleh para donatur dari berbagai penjuru dunia yang memberikan zakat dan infaq untuk para petani. Heni mengaku ada donatur yang datang langsung untuk menyaksikan kegiatan komunitasnya, hingga rela menjadi pengajar.
Heni sendiri tak percaya apa yang dia lakukan akan mendapat respons positif dari banyak orang, sehingga dia bisa mewujudkan mimpinya untuk membantu orang lain. Heni berharap dia dan suaminya bisa terus menjadi individu yang bermanfaat bagi masyarakat di mana pun mereka berada.
"Meski banyak kesulitan yang kami hadapi, namun kami selalu yakin bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya. Seperti halnya impian. Jika kita bersungguh-sungguh maka Allah akan menggerakkan semesta untuk membantu kita mewujudkannya," tutup Heni.
Baca juga:
Foto ini bikin haru, pemulung berkaki satu tetap gigih bekerja
Bos di AS rela potong gaji Rp 13 M agar bonus karyawan naik
Cerita haru si penarik becak yang sekolahkan 300 anak miskin
5 Kisah pengorbanan ayah demi anak ini bisa bikin mata berkaca-kaca
Kisah mengharukan 7 ayah yang rela melakukan apa saja demi anak