Bencana kabut asap karena pemadaman api di lahan gambut tak tuntas
Dilihat dari citra satelit, ada potensi munculnya titik api baru di kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Bencana kabut asap masih melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan hingga ke negara tetangga. Asap semakin pekat lantaran proses pemadaman api di lahan gambut tidak tuntas.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei menuturkan, dibutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk memadamkan titik api di lahan gambut yang terbakar.
"Penanganan kebakaran sebagian besar di lahan gambut. Proses pemadaman di lahan gambut, sebelum api betul-betul padam maka akan menimbulkan banyak asap. Terutama jika air yang digunakan tidak cukup banyak," ujar Willem di Gedung BNPB, Jalan Pramuka, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (1/10).
Willem mengklaim jumlah titik api sudah mulai berkurang jika dibanding kondisi awal September lalu. Meski begitu, jika dilihat dari citra satelit, ada potensi munculnya titik api baru di sejumlah wilayah. Seperti di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Jambi.
"Jumlah kebakaran terbanyak di Sumsel, Kalteng, dan Jambi. Dan sampai saat ini masih terjadi kebakaran-kebakaran baru di mana pemadaman tidak tuntas terjadi kebakaran lagi," ucap dia.
Baca juga:
DPR minta pemerintah tetapkan kebakaran lahan jadi bencana nasional
Menhub: Kalau bandara terdampak kabut asap lebih baik tutup saja
Terhalang kabut asap tebal, pelayaran dari dan ke Batam lumpuh
Semakin pekat, Singapura tingkatkan level kabut asap jadi berbahaya
Malaysia benar-benar siap bantu Indonesia padamkan api
Jokowi minta BNPB percepat atasi kebakaran hutan dan kabut asap