Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jokowi minta BNPB percepat atasi kebakaran hutan dan kabut asap

Jokowi minta BNPB percepat atasi kebakaran hutan dan kabut asap Kabut asap Riau. ©AFP PHOTO/Adek Berry

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo memanggil Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei ke Istana Kepresidenan. Jokowi minta BNPB mempercepat penanganan kebakaran hutan dan kabut asap yang masih terjadi di Sumatera dan Kalimantan.

"Presiden memanggil Kepala BNPB menyampaikan update terkini tentang kebakaran hutan dan lahan, termasuk rencana-rencana yang perlu dilakukan," ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Istana, Jakarta, Rabu (30/9).

Menurut Sutopo, presiden memerintahkan agar kebakaran hutan dan lahan tersebut dapat diselesaikan dengan cepat.

Menurut dia, ada beberapa strategi yang akan diterapkan dalam upaya penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan asap pekat ini. Seluruh sumber daya baik itu manusia maupun peralatan akan dikerahkan untuk menanggulangi masalah ini.

"Maka semua resources sumberdaya akan dikerahkan kepada titik-titik sumber masalah. Di Sumatera Selatan, pusat hotspot, pusat asap itu terjadi di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, serta beberapa perbatasan dengan Jambi. Maka personel akan ditambah serta kekuatan udara akan ditambah untuk kita fokuskan mengatasi kebakaran hutan dan lahan di sana," jelas Sutopo.

"Demikian juga di Kalimantan Tengah. Titik-titik api terkonsentrasi di Pulang Pisau, Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur. Itu akan kita deploy (tempatkan) di sana. Termasuk kekuatan di Kalimantan Selatan untuk lakukan water bombing di Kalimantan Tengah. Jadi strategi-strategi ini akan kita lakukan untuk percepat mengatasi asap di Sumatera dan Kalimantan," tambahnya.

Berdasarkan analisis data per 30 September ini, kata Sutopo, jika dilihat dari hotspot di Sumatera dan Kalimantan dalam seminggu terakhir ini terjadi penurunan. Jumlahnya terus menurun dan titik api yang paling banyak terbakar tetap sama.

"Di Sumatra ada di Sumsel, di Kalimantan di Kalteng. Asap memang masih membumbung. Asap pekat masih terjadi. Nah mengapa hotspot-nya menurun tapi asap masih banyak. Ada dua, satu pembakaran masih terjadi dan kita masih mendeteksi dari satelit, ada tempat-tempat masih dibakar," terang Sutopo.

"Dua, api dipermukaan sudah padam tetapi karena lahan gambut dia mengeluarkan asap. Oleh karena itu untuk strategi percepat penanganan, maka semua resources sumberdaya akan dikerahkan kepada titik-titik sumber masalah. Di Sumsel, pusat hotspot, pusat asap itu terjadi di OKI dan Musi Banyuasin dan beberapa perbatasan dengan Jambi," tutupnya. (mdk/eko)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP