BBPOM Pastikan Keamanan Pangan PKB 2026: Kuliner UMKM Bebas Bahan Berbahaya
BBPOM Denpasar menjamin Keamanan Pangan PKB 2026 setelah uji sampel berulang. Kuliner UMKM dinyatakan aman dari bahan kimia berbahaya, namun aspek fisik dan biologi tetap jadi perhatian penting.
DENPASAR – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Denpasar telah menyatakan bahwa produk kuliner dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berpartisipasi di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 aman dari bahan kimia berbahaya. Pernyataan ini dikeluarkan setelah BBPOM melakukan serangkaian uji sampel secara berulang di lokasi acara. Hasil pengujian ini memberikan jaminan penting bagi pengunjung dan pelaku UMKM mengenai kualitas produk yang ditawarkan.
Ketua Tim Informasi dan Komunikasi BBPOM di Denpasar, Ni Putu Ekayani, menjelaskan bahwa pangan yang aman adalah pangan yang bebas dari tiga bahaya, yaitu bahaya kimia, fisik, dan biologi. Pada hari pertama PKB 2026, tim BBPOM langsung bergerak cepat menguji 19 sampel produk yang dijual oleh UMKM. Langkah proaktif ini diambil untuk memastikan Keamanan Pangan PKB terjaga sejak awal kegiatan.
Pengujian yang dilakukan BBPOM ini bertujuan untuk mendeteksi potensi kandungan berbahaya seperti rhodamin B, boraks, dan formalin yang kerap ditemukan pada makanan. Dengan adanya pengawasan ketat ini, diharapkan masyarakat dapat menikmati beragam hidangan kuliner di PKB tanpa kekhawatiran. Komitmen BBPOM ini menjadi pilar utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap produk UMKM lokal.
Fokus Uji Sampel dan Deteksi Bahan Berbahaya
Dalam upaya menjamin Keamanan Pangan PKB, BBPOM Denpasar mengambil berbagai jenis sampel produk kuliner yang sesuai dengan potensi kandungan berbahaya. Beberapa produk yang diuji meliputi sate ikan laut, pepes, bakso, kerupuk, es mutiara, hingga terasi. Pemilihan sampel ini didasarkan pada pengalaman dan kecurigaan terhadap jenis makanan tertentu yang rentan terkontaminasi bahan kimia.
Ni Putu Ekayani mencontohkan, es mutiara diuji kandungan rhodamin B karena warna merahnya yang mencolok seringkali dicurigai berasal dari pewarna tekstil. Demikian pula dengan tahu dan mi, yang kerap dicurigai mengandung formalin. Sementara itu, lontong juga menjadi perhatian karena beberapa kasus di luar Bali menunjukkan adanya penggunaan boraks, meskipun di Bali sendiri belum ditemukan kasus serupa.
Terasi menjadi salah satu produk yang paling menonjol dalam daftar kecurigaan BBPOM. Selain warnanya yang seringkali mencolok, banyak UMKM yang masih menggunakan terasi tanpa izin edar dari BPOM sebagai bahan tambahan pangan. Terasi sangat riskan ditambahkan pewarna tekstil rhodamin B, yang dapat memberikan warna cerah merona pada rujak, meskipun hasil uji di PKB menunjukkan terasi yang diuji aman.
BBPOM dapat memastikan hasil uji di UMKM kuliner PKB 2026 ini lantaran proses uji bahan kimia dilakukan berulang kali. Pengujian ini bahkan mencakup stan-stan baru yang baru bergabung pada tahun ini. Ini menunjukkan komitmen BBPOM untuk memberikan pengawasan menyeluruh tanpa terkecuali.
Pentingnya Pencegahan Bahaya Fisik dan Biologi
Meskipun hasil uji menunjukkan kuliner UMKM aman dari bahaya kimia, BBPOM mengingatkan bahwa keamanan pangan tidak hanya berhenti pada aspek kimiawi. Ni Putu Ekayani menekankan pentingnya memastikan pelaku usaha juga berjualan dengan aman dari bahaya fisik dan biologi. Kedua aspek ini sama krusialnya untuk menjaga kualitas dan higienitas produk makanan.
Untuk bahaya biologi, yaitu pencemaran mikroba, Ekayani mengapresiasi sejumlah pedagang yang sudah paham untuk menutup produknya guna mencegah lalat. Praktik ini sangat penting untuk menghindari kontaminasi silang dan menjaga kebersihan makanan. Kesadaran pedagang dalam menjaga kebersihan lingkungan berjualan patut diacungi jempol.
Namun, aspek yang masih banyak diabaikan adalah penggunaan celemek dan masker saat memasak atau menyajikan makanan. Padahal, alat kelengkapan ini sangat penting untuk memastikan produk tidak terkontaminasi dari percikan atau droplet. BBPOM terus mengedukasi para pedagang mengenai pentingnya praktik higienis ini.
Sementara itu, untuk bahaya fisik, BBPOM meminta panitia festival seni terbesar di Bali itu rutin setiap hari melihat kondisi makanan yang dijual. Hal ini untuk memastikan tidak ada makanan rusak atau kedaluwarsa yang masih dijual kepada konsumen. Pengawasan berkala dari panitia sangat diperlukan untuk menjaga standar Keamanan Pangan PKB secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews