BBPJN Targetkan Tuntaskan Pembersihan Longsor Trenggalek-Ponorogo dalam Dua Hari
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali menargetkan pembersihan longsor Trenggalek-Ponorogo di jalur nasional Km 16 tuntas dalam dua hari, meski kondisi tebing rawan longsor susulan.
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali menyatakan proses pembersihan material longsor di Km 16 jalur nasional Trenggalek–Ponorogo, Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, ditargetkan tuntas dalam waktu dua hari. Longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut pada Selasa (3 Maret) sekitar pukul 17.30 WIB. Bongkahan batu berukuran besar dari tebing setinggi sekitar 50 meter menutup total badan jalan, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.3 Jatim, Satker Wilayah II Jatim BBPJN Jatim-Bali Endhy Aktony, di Trenggalek, Jawa Timur, pada Rabu (4 Maret), mengatakan proses evakuasi material dilakukan secara hati-hati. Hal ini karena kondisi tebing masih rawan longsor susulan. Pihaknya menerjunkan empat unit alat berat untuk mempercepat proses pembersihan material longsor tersebut.
Target penyelesaian pembersihan material longsor ini adalah dua hari, namun pekerjaan belum bisa maksimal karena harus bergantian. Faktor keselamatan menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana ini. Setelah pembersihan rampung, tim perencanaan akan melakukan evaluasi teknis untuk menentukan langkah penanganan lanjutan, termasuk perbaikan talud yang ambrol.
Proses Evakuasi Material Longsor Berlangsung Hati-hati
Proses evakuasi material longsor di jalur Trenggalek-Ponorogo dilakukan dengan sangat hati-hati, mengingat kondisi tebing di lokasi kejadian masih sangat rawan mengalami longsor susulan. Endhy Aktony menegaskan bahwa keselamatan pekerja menjadi pertimbangan utama dalam setiap langkah penanganan. "Targetnya dua hari selesai. Namun pekerjaan belum bisa maksimal karena harus bergantian dan mempertimbangkan faktor keselamatan," kata Endhy.
Dalam upaya pembersihan longsor Trenggalek-Ponorogo ini, BBPJN menerjunkan empat unit alat berat. Alat-alat tersebut meliputi dua ekskavator, satu breaker (pemecah batu), dan satu loader. Kombinasi alat berat ini sangat penting untuk menangani material longsor yang bervariasi, mulai dari tanah hingga bongkahan batu besar.
Berdasarkan rekomendasi tim di lapangan, batu berukuran besar yang menutup badan jalan terlebih dahulu dipecah menggunakan breaker. Setelah batu terpecah menjadi ukuran yang lebih kecil, barulah dimuat menggunakan ekskavator untuk diangkut. "Dari Basarnas menyarankan menggunakan breaker dulu. Setelah batu terpecah, baru dimuat menggunakan ekskavator," jelas Endhy.
Kerusakan Infrastruktur dan Target Perbaikan Jalur Trenggalek-Ponorogo
Hasil pemantauan awal menunjukkan bahwa tingkat kerusakan infrastruktur akibat longsor Trenggalek-Ponorogo tidak terlalu parah dan dapat ditangani dengan cepat. Tembok penahan (tanggul) yang terdampak dilaporkan pecah akibat tertimpa batu, bukan karena pergerakan tanah. "Tembok penahan pecah karena tertimpa batu, bukan karena tanah turun. Bagian bawah juga sama," ujarnya.
Setelah seluruh material longsor berhasil dibersihkan, tim perencanaan akan segera melakukan evaluasi teknis secara menyeluruh. Evaluasi ini bertujuan untuk menentukan langkah penanganan lanjutan yang paling efektif, termasuk perbaikan talud yang ambrol akibat kejadian longsor. Langkah ini penting untuk memastikan stabilitas dan keamanan jalur dalam jangka panjang.
Endhy memastikan perbaikan kerusakan aspal akibat longsor ditargetkan tuntas sebelum Lebaran 2026. Dengan demikian, arus lalu lintas di jalur nasional Trenggalek–Ponorogo diharapkan dapat kembali normal sepenuhnya sebelum musim mudik tiba. Target ini menunjukkan komitmen BBPJN untuk segera memulihkan kondisi jalan dan melayani masyarakat.
Antisipasi Longsor Susulan dan Kondisi Terkini
Untuk penanganan sementara di area rawan longsor, BBPJN akan memasang pelindung seperti geolandscape dan terpal. Pemasangan ini bertujuan untuk mencegah rembesan air hujan yang dapat memicu longsor susulan, sembari menunggu perencanaan konstruksi permanen. Langkah antisipasi ini krusial mengingat karakteristik geografis daerah tersebut.
Longsor terjadi pada Selasa (3 Maret) sekitar pukul 17.30 WIB setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Bongkahan batu berukuran besar dari tebing setinggi sekitar 50 meter menutup total badan jalan. Meskipun demikian, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat peristiwa longsor ini, sebuah kabar baik di tengah bencana.
Kondisi jalur nasional Trenggalek-Ponorogo yang sempat lumpuh total kini dalam proses pemulihan. Upaya pembersihan longsor Trenggalek-Ponorogo yang cepat dan terkoordinasi diharapkan dapat segera mengembalikan fungsi vital jalur ini sebagai penghubung antar wilayah. Masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati dan memantau informasi terkini mengenai kondisi jalan.
Sumber: AntaraNews