Basarnas Evakuasi Kru Kapal Filipina yang Sakit di Perairan Aceh
Tim Basarnas Banda Aceh berhasil mengevakuasi seorang kru kapal pesiar berkebangsaan Filipina yang mengalami sakit di perairan Selat Benggala, dekat Aceh Besar, membutuhkan penanganan medis segera.
Tim SAR gabungan, dipimpin oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banda Aceh, berhasil mengevakuasi seorang kru kapal pesiar berkebangsaan Filipina yang jatuh sakit. Evakuasi dramatis ini dilakukan di perairan Selat Benggala, dekat wilayah Aceh Besar, Provinsi Aceh, pada Sabtu malam (16/5).
Kru kapal bernama Arante Faenielle Emerald, berusia 38 tahun, dievakuasi dari kapal pesiar berbendera Malta, Mein Schiff 6. Penyelamatan ini dilakukan setelah kapten kapal meminta bantuan darurat karena kondisi kesehatan kru yang memburuk dan memerlukan perawatan medis lebih lanjut.
Kepala Kantor Basarnas Banda Aceh, Ibnu Harris Al Hussain, menjelaskan bahwa korban segera dilarikan ke rumah sakit di Banda Aceh setelah berhasil dipindahkan dari kapal. Operasi SAR ini menunjukkan kesigapan petugas dalam merespons panggilan darurat di tengah laut.
Kronologi Penyelamatan Dramatis di Selat Benggala
Operasi penyelamatan dimulai setelah kapten kapal pesiar Mein Schiff 6 menghubungi pusat komando Basarnas untuk meminta evakuasi medis. Kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari Port Klang, Malaysia, menuju Hambantota, Sri Lanka, ketika insiden ini terjadi.
Permintaan tersebut segera diteruskan ke Kantor Basarnas Banda Aceh untuk penanganan cepat. Basarnas kemudian mengerahkan kapal penyelamat KN Kresna 232 dari Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh.
Kapal KN Kresna 232 bergerak mendekati lokasi kapal pesiar yang berada sekitar 5.8 mil laut dari Pelabuhan Ulee Lheue, dekat Pulau Weh. Koordinasi intensif dilakukan antara Basarnas dan pihak kapal pesiar untuk menentukan titik evakuasi yang paling aman dan efektif.
Koordinasi Lintas Instansi dalam Evakuasi Medis
Tim evakuasi tidak hanya melibatkan personel Basarnas, tetapi juga dilengkapi dengan petugas karantina kesehatan. Kehadiran petugas karantina kesehatan ini penting untuk memastikan bahwa pasien tidak mengidap penyakit menular sebelum dipindahkan ke kapal penyelamat.
Setelah berhasil dipindahkan ke darat, Arante Faenielle Emerald langsung dibawa menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Proses transfer ini berlangsung lancar berkat koordinasi yang baik.
Operasi SAR ini juga melibatkan dukungan dari berbagai instansi lain seperti Bea Cukai, Imigrasi, TNI Angkatan Laut, dan Otoritas Pelabuhan. Kolaborasi antarlembaga ini memastikan seluruh tahapan evakuasi berjalan sesuai prosedur dan aman bagi semua pihak.
Dengan selesainya evakuasi kru kapal Filipina ini, operasi SAR secara resmi dinyatakan berakhir. Seluruh personel yang terlibat kemudian kembali ke institusi masing-masing setelah memastikan korban mendapatkan penanganan yang diperlukan.
Sumber: AntaraNews