Bareskrim Polri sambangi RSCM, diduga terkait kasus penjualan ginjal
9 Anggota polisi berbaju preman bertuliskan Bareskrim itu datang sekitar pukul 09.30 WIB.
9 Orang penyidik Bareskrim Mabes Polri siang ini mendatangi Gedung Kencana Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). 9 Penyidik itu mendatangi RSCM diduga terkait kasus penjualan ginjal.
9 Anggota polisi berbaju preman bertuliskan Bareskrim itu datang sekitar pukul 09.30 WIB. Mereka langsung masuki ke Gedung Kencana tanpa memberikan keterangan kepada awak media. Satpam yang berjaga di lobi pun melarang wartawan untuk masuk.
Sebelumnya, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri tengah mendalami keterlibatan tiga rumah sakit di Jakarta terkait sindikat perdagangan organ tubuh manusia berupa ginjal yang menjerat tiga orang tersangka AG, DD dan HR. Diduga kuat, dalam kasus ini, dokter di tiga rumah sakit itu ikut terlibat langsung dalam praktik jual beli organ tubuh tersebut.
Kasubdit III Direktorat Tindak Pidana Umum Kombes Umar Fana mengungkapkan dugaan adanya keterlibatan dokter di tiga rumah sakit swasta dan negeri itu lantaran tempat tersebut dijadikan sebagai kegiatan transplantasi ginjal korban ke penerima, prosedur yang dilakukan pihak rumah sakit itu pun dinilai telah menyalahi aturan.
"Rumah sakit yang digunakan di Jakarta baik swasta dan negeri, sedang didalami motif ini adalah jual beli organ. Atau kena hanya di malapraktik. Karena dari sisi caranya tidak benar dan tidak ada wawancara," ujar Umar kepada wartawan di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (27/1).
"Mekanisme pengambilan organ sudah dilanggar karena sebelum proses, harusnya wawancara. Terutama soal kerjanya, pekerja kasar harusnya enggak boleh," tambah dia.
Umar menjelaskan, dari hasil pemeriksaan ketiga tersangka, ketiga rumah sakit itu lah yang meminta disediakan korban. Sehingga, tersangka HR yang diketahui berperan sebagai penghubung pihak rumah sakit meminta AG dan DD selaku perekrut korban mencarikan orang yang mau menjual ginjalnya.
"Yang terjadi sekarang permintaan ini indikasinya muncul dari rumah sakit. Rumah sakit call HR kemudian HR kontak DD dan AG untuk rekrut," ungkap Umar.
Setelah mendapat korban, lanjut Umar, AG dan DD membawa calon pendonor ginjal ke rumah sakit di Garut untuk dilakukan pengecekan medis. Jika dinyatakan lolos atau ginjal dinyatakan baik, korban kemudian dibawa ke rumah sakit di Bandung untuk dilakukan pengecekan ulang.
"Kemudian di Jakarta untuk cek darah, City Scan di dua rumah sakit swasta. Baru dibawa ke rumah sakit utama untuk operasi, kemudian pemesan beri dana awal untuk operasional sebesar Rp 10 juta. Kemudian saat korban sudah mau datang untuk operasi, ketemu dengan penerima baru dilunasi," beber Umar.
Meski sudah mengantongi 3 nama rumah sakit yang diduga ikut terlibat dalam sindikat penjualan ginjal itu, Umar belum mau berani menyebut nama rumah sakit tersebut. "Belum berani sebut rumah sakitnya," ucap dia.
Baca juga:
Diancam sindikat, korban enggan bongkar praktik jual beli ginjal
Kasus perdagangan ginjal, Bareskrim periksa sejumlah RS di Jakarta
Polri panggil RS di Jakarta & Bandung soal kasus perdagangan ginjal
Bareskrim sebut penjualan ginjal sebagai kejahatan terorganisir
Bisnis mayat digerebek, diduga organ tertular HIV ikut dijual
Kasus jual ginjal, politikus PKB minta Kemenkes segera bertindak