Bangau-bangau kertas buat Presiden Jokowi dari WNI di Kyoto
Kepercayaan di Jepang membuat bangau kertas melambangkan kuatnya harapan kita.
Tak mau ketinggalan dengan warga di tanah air, masyarakat Indonesia di Kyoto, Jepang, turut merayakan pengambilan sumpah Presiden RI ke-7 Joko Widodo.
Hujan deras tidak menghalangi untuk menghadiri acara bertajuk 'Doa Bersama untuk Indonesia' ini. Acara dimulai pukul 17.00 waktu Jepang (atau 15.00 WIB) di Kantor Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Kyoto, Selasa (20/10) kemarin.
Berbaju putih, masyarakat Indonesia tak bisa menahan rasa gembiranya akan kehadiran presiden baru. Warga yang hadir berprofesi sebagai dosen, PNS, ibu rumah tangga, maupun para pekerja Indonesia yang sudah lama mencari nafkah di negeri Sakura.
Mereka pun membuat bangau-bangau kertas, sebagai lambang harapan untuk era baru Indonesia. Adalah sebuah kepercayaan di Jepang, bahwa membuat bangau kertas melambangkan kuatnya harapan kita.
Selesai salat magrib, sekitar pukul 19.00, acara inti dimulai. Doa bersama yang mengharukan dipimpin Faesoli, anak muda NU kelahiran Banyuwangi. Dilanjut dengan pidato singkat Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kyoto-Shiga, Hendy Setiawan.
Abdul Hamid, dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten yang sedang menempuh program doktoral di salah satu universitas di Kyoto menyampaikan harapannya terhadap pemerintahan Jokowi-JK. "Indonesia tidak hanya butuh presiden yang baik, tapi juga rakyat yang baik. Di Jepang kita belajar tentang integritas, semoga ini menyatu dalam darah dan daging kita."
Ishaq Rahman, dosen Universitas Hasanuddin, berharap agar Jokowi bisa blusukan ke kampung halamannya di Wakatobi. "Belum ada satupun Presiden Indonesia yang datang ke sana," ujarnya.
Wina SW1, penyair asal Aceh, menyampaikan harapannya agar pelanggar HAM dapat diadili. Aiko, seniman adal Jakarta, menyatakan siap bekerja di bawah pemerintahan Jokowi. Ernoiz, dosen UNS Surakarta, berharap Indonesia bisa berswasembada pangan. Beni, dosen FK UGM, berharap Jokowi tetap apa adanya. Yudia, seorang ibu rumah tangga, berharap pemerintah baru dapat membenahi sektor pendidikan.
Lalu, apalagi yang ditunggu orang Indonesia kalau sedang ngumpul? Tentu saja makan-makan. Potong tumpeng jadi puncak acara. Nasi beraneka warna dan bermacam lauk mengundang selera para perantau. "Oishii, enak," kata anak-anak Indonesia yang hadir.
Baca juga:
Pesta usai, saatnya Jokowi benahi 'rumah'
Rudy: Jika Jokowi melenceng, saya yang pertama mengingatkan
Dapat masukan KPK & PPATK, Jokowi evaluasi lagi 43 calon menteri
Tadi malam Jokowi seleksi calon menteri di istana sampai jam 3
Jokowi terancam kehilangan triliunan pemasukan dari sektor hutan
Jokowi diajak PM Papua Nugini investasi kayu, tambang & ikan
Repotnya Paspampres kawal Presiden Jokowi