LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Arman Depari sebut saat ini bandar besar narkoba lagi tiarap

Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Pol Arman Depari mengatakan ada pemain atau bandar besar yang tengah berupaya memasukkan barang haram ke Indonesia. Pihaknya memonitor ada beberapa pemain yang saat ini sengaja tiarap.

2018-05-30 12:48:15
BNN
Advertisement

Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Pol Arman Depari mengatakan ada pemain atau bandar besar yang tengah berupaya memasukkan barang haram ke Indonesia. Pihaknya memonitor ada beberapa pemain yang saat ini sengaja tiarap.

Namun di sisi lain para pemain itu menciptakan operator untuk melakukan transaksi narkoba. "Ini sekarang lagi tiarap bandar besar. Kalau kita meleng dia lewat lagi. Ini ada di luar kita monitor operatornya. Tapi itu belum ada pergerakan. Ini seperti sel-sel tidur yang disiapkan," kata Irjen Arman saat berbincang dengan Liputan6.com, Rabu (30/5).

Arman menjelaskan, operator adalah istilah yang diberikan pemain besar untuk para pengendali, baik yang di luar lapas atau di dalam lapas. Para pengendali ini yang bertanggung jawab atas pengiriman dan transaksi atau arus lalu lintas barang haram.

Advertisement

"Ya kayak Freddy Budiman itu operator, ada lagi sumber dana atau dia setoran ke bosnya. Jaringan internasional itu," ujar Arman.

Lebih jauh Arman menuturkan, operator-operator itu akan dipersiapkan untuk bermain saat produksi narkoba selesai. Menurut Arman, ada waktu rawan atau waktu yang biasa dipakai bandar besar untuk mengedarkan narkoba.

"Di atas bulan Oktober dan Februari itu biasa peredaran dimulai. Jadi September selesai produksi sampai Desember itu biasanya," ungkap Arman.

Advertisement

Di sisi lain Arman pun menyayangkan penjagaan di lapas yang seringkali dinilai kendur. Terbukti dengan masih adanya pengendali dari dalam lapas. Sebab, kata Arman, ada beberapa pemain yang justru seolah sengaja masuk ke dalam lapas untuk bertransaksi.

"Ya terakhir ada sipir sama satu oknum anggota yang kita tembak di Lampung. Jadi itu mereka pemain kadang terbiasa masukin operatornya ke dalam (penjara)," ujar Arman.

Tantangan juga datang dari luar. Kali ini, sambung Arman, ada negara-negara yang seolah enggan bekerjasama terkait pemberantasan narkoba. Padahal pihak BNN dan otoritas di negara itu sudah duduk bersama dan berdialog.

"Kita sudah kerjasama dengan berbagai negara yang jadi sumber ekstasi. Itu kan kebanyakan di Eropa Timur. Ada Jerman, Prancis, Belgia, Belanda dan terakhir Polandia. Belanda itu tidak kooperatif," imbuh Arman.

Tidak hanya soal pemberantasan, menurut Arman, Belanda juga sulit diajak kerjasama dalam pengusutan kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

"Begitu juga soal TPPU yaitu di Belanda tidak kooperatif. Kita sudah duduk bersama tapi ternyata kasus-kasus pengiriman ekstasi masih aja," kata Arman.

Reporter: Moch Harun Syah
Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
BNN musnahkan 68 kg katinon dan ribuan ekstasi
BNN ungkap katinon selundupan Malaysia tumbuh di tempat bersuhu dingin
BNN musnahkan 68 kg katinon, 31 kg sabu dan 25.000 butir ekstasi
Sabu 3 Kg asal Malaysia diselundupkan ke Entikong dalam kardus mie
Nyambi jadi pengedar ganja, nelayan di Aceh diringkus polisi
Pengedar sabu di Aceh Utara didor saat ditangkap
4 Napi Lapas Bangkinang ketangkap isap sabu

(mdk/dan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.