Apa Itu Bakteri Ecoli dan Salmonella Sebabkan Pelajar di Bogor Keracunan Usai Santap MBG? Begini Cara Mengobatinya
Hasil uji laboratorium kesehatan daerah Kota Bogor mengungkapkan, makanan dikonsumsi siswa terkontaminasi bakteri E. coli dan Salmonella Typhosa.
214 Siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bogor, Jawa Barat. Badan Gizi Nasional (BGN) selaku penanggung jawab program Makan Bergizi Gratis itu memutuskan menonaktifkan sementara dapur yang mengolah menu masakan diduga menjadi sumber pangan tercemar.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan, hasil uji laboratorium kesehatan daerah Kota Bogor mengungkapkan, makanan dikonsumsi siswa terkontaminasi bakteri E. coli dan Salmonella Typhosa.
"Tadi pagi pemeriksaan sampel dari Labkesda Kota Bogor keluar. Hasilnya ada kandungan bakteri E Coli dari sampel telur ceplok saus barbeque. Untuk bakteri Salmonella ada di tumis toge dan tahu," ujar Dedie, Senin (12/5).
Pengertian Bakteri Escherichia Coli dan Salmonella
Lantas apa itu bakteri Escherichia coli dan Salmonella yang menyebabkan ratusan pelajar di Kota Bogor keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis? Simak ulasannya berikut ini.
Sebagaimana dikutip dari Alodokter, Escherichia coli merupakan bakteri hidup di dalam usus manusia untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan. Bakteri ini umumnya tidak berbahaya. Namun, ada jenis E. coli yang menghasilkan racun dan menyebabkan diare parah.
Seseorang dapat terpapar bakteri E. coli berbahaya karena mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. Paparan E. Coli ini dapat menimbulkan gejala berupa sakit perut, diare, mual, dan muntah. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri E. coli ini akan berdampak lebih parah jika terjadi pada anak-anak dan lansia.
Bakteri E.coli pada umumnya tersebar melalui makanan dan minuman dikonsumsi sudah terkontaminasi. Selain mengonsumsi makanan dan minuman terkontaminasi, infeksi disebabkan bakteri E.coli juga bisa diakibatkan kontak langsung. Seperti lupa cuci tangan setelah memegang binatang atau sesudah buang air besar, lalu menjalin kontak dengan orang lain dapat menularkan bakteri tersebut.
Sedangkan gejala E.coli berbeda pada setiap orang. Namun infeksi ini sering kali ditandai dengan diare, yang umumnya muncul 3-4 hari setelah terpapar bakteri.
Selain diare, gejala lain akibat infeksi E. Coli dapat berupa sakit perut yang parah hingga kram. Mual dan muntah, perut kembung, hilang nafsu makan, demam, menggigil, pusing dan nyeri otot.
Bakteri Salmonella
Sementara itu, dikutip dari situs Kemenkes, Salmonella adalah kelompok bakteri pemicu diare dan infeksi di saluran usus manusia. Bakteri ini dapat hidup di saluran usus hewan yang ditularkan ke manusia melalui makanan yang terkontaminasi kotoran hewan. Selain itu, konsumsi makanan yang kurang matang dan tidak dicuci juga dapat meningkatkan risiko terkontaminasi.
Bakteri salmonella menyerang manusia melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi tinja atau feses yang mengandung bakteri tersebut. Beberapa jenis makanan yang paling umum mengandung bakteri Salmonella adalah daging sapi, unggas termasuk ayam broiler atau makanan laut yang masih mentah atau setengah matang.
Kemudian susu atau produk susu olahan yang tidak dipasteurisasi. Telur mentah atau setengah matang
Buah-buahan atau sayur-sayuran yang tidak dicuci. Bahan makanan yang dicuci dengan air yang terkontaminasi bakteri Salmonella dan makanan olahan seperti nugget atau sosis.
Sementara itu, gejala infeksi Salmonella atau salmonelosis dapat muncul 12–72 jam setelah seseorang terinfeksi. Gejala yang muncul adalah diare, kram perut, demam, sakit kepala, mual, muntah.
Gejala infeksi Salmonella umumnya berlangsung selama 4–7 hari. Namun, penderita juga dapat mengalami diare hingga 10 hari dan memerlukan waktu beberapa bulan agar usus kembali berfungsi dengan normal.
Pengobatan dan Penanganan Infeksi Salmonella
Gejala infeksi Salmonella umumnya dapat diatasi dengan cara yang sederhana. Pada kasus yang ringan, di mana daya tahan tubuh masih baik, infeksi ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa perlunya pengobatan khusus. Penting untuk tetap terhidrasi dengan banyak minum cairan untuk mencegah dehidrasi.
Namun, jika gejala tidak membaik atau justru memburuk, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Pengobatan yang mungkin diberikan meliputi:
Pengobatan dan Penanganan Infeksi E. coli
Infeksi E. coli, terutama tipe berbahaya seperti E. coli O157:H7, memerlukan perhatian khusus. Gejala yang muncul biasanya berlangsung antara 5 hingga 7 hari, tetapi dalam beberapa kasus bisa mencapai 10 hari. Gejala ini termasuk diare (yang kadang-kadang berdarah), demam, sakit perut, mual, muntah, dan sakit kepala.
Pada infeksi yang ringan, pengobatan yang dianjurkan adalah dengan cukup istirahat dan minum banyak cairan, seperti air putih, minuman isotonik, atau larutan oralit, untuk mencegah dehidrasi. Sebaiknya hindari konsumsi jus apel, pir, kopi, dan alkohol. Konsumsi makanan lunak dan rendah serat juga dianjurkan, sambil menghindari makanan berlemak dan berbumbu.
Apabila infeksi tergolong berat, seperti yang dapat menyebabkan sindrom hemolitik uremik, perawatan intensif di rumah sakit mungkin diperlukan. Dalam kasus ini, pemberian cairan intravena menjadi langkah penting. Antibiotik biasanya tidak diresepkan karena risiko efek samping dan resistensi antibiotik.
Kapan Harus ke Dokter?
Baik untuk infeksi E. coli maupun Salmonella, terdapat beberapa kondisi di mana Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter, antara lain:
Informasi ini bersifat umum dan tidak menggantikan konsultasi medis. Penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis profesional untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat. Pengobatan yang tepat akan disesuaikan dengan keparahan infeksi dan kondisi kesehatan individu.