Antisipasi Virus ASF, Produk Impor Babi Dilarang Masuk ke Bali
Adapun populasi babi berisiko tinggi ASF tersebut sebanyak 10.002 ekor babi dari total keseluruhan populasi babi di Bali sebanyak 890 ribu ekor.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali I Wayan Mardiana mengatakan, untuk mengantisipasi wabah virus flu babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) pihaknya sudah melarang produk impor daging babi dari negara-negara yang terjangkit virus itu.
"Untuk mengantisipasi acaman ASF, kita sudah melakukan pelarangan masuknya daging babi ke Pulau Bali. Jadi teman-teman Karantina sudah melakukan kewaspadaan produk-produk babi ke Pulau Bali dan ini sudah kita lakukan," kata Mardiana, di Kantor Dinas Pariwisata Bali, Jumat (27/12).
Ia menerangkan, sebenarnya larangan itu sudah diantisipasi sejak awal mula kasus ASF dan melarang segala produk bahan dari babi masuk ke Bali, terutama negara-negara yang diserang wabah virus itu.
"Begitu kejadian kasus di Cina dan kasus kematian (Babi) di Sumatra Utara kita sudah langsung mengantasi larangan masuknya daging babi. Karena kita ketahui penularan virus ASF ini hanya melalui sisa-sisa makanan yang berbahan dari daging babi," ungkapnya.
Sementara untuk kebutuhan daging babi di Bali, pihaknya menyampaikan sangat terpenuhi dan malah bahan daging babi di Bali dikirim ke Jakarta dan Singapura. Karena, jumlah peternak babi di seluruh Bali mencapai 309 orang dengan total populasi 890 ribu ekor dan kebutuhan daging di Bali sekitar 400 ton pertahun. Kemudian, untuk bahan babi yang dikirim keluar tidak banyak hanya 5 ton.
"Jadi untuk masalah itu kita sudah swasembada, sampai sekarang Jakarta itu tidak boleh menerima produk daging babi dari Sumatera, Bali yang memasok ke Jakarta karena jumlah populasi (Babi) kita sangat banyak," ujarnya.
Sementara untuk titik rawan daerah peternakan yang berisiko tinggi terjangkit virus flu babi Afrika ada sebanyak 26 titik yang tersebar di 9 Kabupaten dan Kota di Bali.
Hal itu, menjadi rawan terjangkit ASF karena para peternak masih menggunakan pakan sisa dari Hotel Restoran dan Catring (Horeka).
"Ada 25 titik yang kita petakan dan berisiko tinggi ASF," kata Mardiana.
Dari 25 titik, tersebut berada di Denpasar dengan 140 peternak, Kabupaten Badung 44 peternak, Bangli 9 peternak, Buleleng 4 peternak, Gianyar 8 peternak, Jembrana 8 peternak, Karangasem 12 peternak, Klungkung 28 peternak dan Tabanan 1 peternak.
Adapun populasi babi berisiko tinggi ASF tersebut sebanyak 10.002 ekor babi dari total keseluruhan populasi babi di Bali sebanyak 890 ribu ekor. Setelah dipetakan, pihaknya menugaskan Dinas Peternakan Kabupaten dan Kota untuk selalu melakukan pengawasan dan penyuluhan.
"Jika ada babi mati maka diwajibkan untuk diambil samplenya untuk diperiksa," ujarnya.
Meski demikian, penggunaan pakan Horeka masih diperbolehkan. Namun harus dengan syarat dimasak dengan suhu di atas 70 derajat celcius.
Baca juga:
Berkat Babi, Pengusaha ini Masuk Jajaran 500 Orang Terkaya Dunia
Tanggapi DPRD, Dinkes DKI Belum Terima Keluhan Keberadaan RPH Babi di Kapuk
Resahkan Warga, Rumah Pemotongan Babi Milik Pemprov di Jakbar Diminta Ditutup
Bangkai Babi Terjangkit Hog Cholera Dibuang ke Sungai, Warga Takut Makan Ikan
351 Bangkai Babi Cemari Sungai Dikuburkan di Tepi Danau Siombak
VIDEO: Ribuan Bangkai Babi Ditemukan Mengapung di Sungai dan Danau Sumut
6 Bahaya Daging Merah Jika Sering Dikonsumsi, Berisiko Kanker