Analisis Penyebab Meninggalnya AKBP Andi di Gunung Parang Purwakarta
Kasubbid Oras Bid Yanmas Baintelkam Polri AKBP Andi Nurwandi meninggal dunia saat mendaki Tebing Gunung Parang Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, Sabtu (14/12). Operator pendakian Gunung Parang, wilayah Cihuni, Wawan Lukman Hidayat menjelaskan, korban terjatuh saat turun di ketinggian 70 meter.
Kasubbid Oras Bid Yanmas Baintelkam Polri AKBP Andi Nurwandi meninggal dunia saat mendaki Tebing Gunung Parang Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, Sabtu (14/12). Operator pendakian Gunung Parang, wilayah Cihuni, Wawan Lukman Hidayat menjelaskan, korban terjatuh saat turun di ketinggian 70 meter.
"Iya setelah memanjat dari ketinggian 300 meter," jelas Wawan saat dihubungi, Senin (16/12).
Dari hasil olah tempat kejadian perkara yang dilakukan Polres Purwakarta dengan menghadirkan saksi, termasuk ahli panjat tebing, Minggu (15/12), dikatakan Wawan besar kemungkinan korban jatuh di medan yang sudah landai.
"Pada saat kejadian besar kemungkinan karabiner tidak terpasang dengan benar, kan perpindahan tangga ke tangga bergantian posisinya. Nah analisa di lokasi sesuai saksi mata melihat kejadian, kondisi besi masih utuh," katanya.
Lebih lanjut menurut Wawan, jika posisi karabiner terpasang saat korban jatuh maka kondisi sling dan besi akan ikut terlepas. Sehingga kemungkinan juga disebabkan karena ada human error.
"Ya kalau melihat dari SOP mungkin tidak dijalankan, karena melihat dari cantolan. Kalaupun tidak dikaitkan dan turun sesuai aturan itu masih aman. Nah dikhawatirkan juga karena setelah melewati trek landai lalu ada kepercayaan diri yang lebih sehingga tidak terpasang sehingga saat turun lagi si karabiner tidak tercantol," ungkap Wawan.
Kemungkinan lain menurut Wawan, korban terjatuh bisa juga karena terpeleset, mengingat tidak ada saksi mata secara jelas saat detik-detik kejadian.
"Cuaca pada saat kejadian usia diguyur hujan, korban turun setelah sebelumnya hujan lumayan besar turun di Gunung Parang, jadi bisa juga karena sedikit banyaknya faktor cuaca mempengaruhi," ujar Wawan.
Kemungkinan tersebut kemungkinan bisa terjadi, pasalnya saat korban dievakuasi usai mengalami kecelakaan keberadaan harnes masih berada di tubuh.
"Kondisi harnes dan tali masih baik dan baru, jadi kalau si karabiner tercantol korban tidak akan jatuh, pasti tertahan. Apalagi posisi tali itu ada dua yaitu untuk backup. Jadi saat pergantian melangkah itu digunakan satu persatu dan tidak boleh dilepas sekaligus," imbuh Wawan.
Wawan juga membantah peristiwa tersebut disebabkan tali sling putus, mengingat sling yang bermasalah justru ada di titik lebih atas bukan di titik korban terjatuh.
"Sling putus itu ada di titik 15 meter di atasnya, itu karena ada aliran air sehingga berkarat. Terus kalau kejadiannya di titik itu maka relatif aman karena berada di area landai," papar Wawan.
Korban mengembuskan napas terakhir saat perjalanan menuju rumah sakit dan telah dimakamkan di pemakaman umum di sekitar tempat tinggal keluarganya di Sukatani, Purwakarta.
Sementara panjat tebing via ferata Gunung Parang Purwakarta dikenal sebagai panjatan dinding tertinggi di Indonesia dan kedua di Asia. Dibuka secara resmi sejak 2015 dengan dikelola oleh lima operator yang terdapat di masing-masing pos.
Sampai dengan saat ini, per setiap pos sudah dikunjungi lebih dari 20 ribu pemanjat, baik lokal maupun mancanegara.
"Nah berdasar pada pengalaman kita selama ini, jangankan yang terjatuh terpeleset pun Allhamdulillah belum pernah," pungkas Wawan.
Baca juga:
Tali Pengaman Putus, AKBP Andi Meninggal Terjatuh saat Panjat Tebing Gunung Parang
Pria Tanpa Identitas Tewas Usai Terjun dari Tower Setinggi 100 Meter
Seorang Pria Tewas Usai Terjun dari Lantai 4 Galaxy Mal Surabaya
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Tewas Saat Imami Salat Terperosok ke Sumur
Bocah di Situbondo Tewas Terjepit Komidi Putar
WN Jepang yang Lompat dari Apartemen Trauma Lihat Orang Berbadan Kekar