LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Akankah batas usia 40 tahun caketum Ansor bakal bikin ricuh kongres?

Masalah ini, pada Kongres GP Ansor XIV di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada 2011 silam sempat memicu kericuhan.

2015-11-26 19:55:37
GP Ansor
Advertisement

Salah satu syarat maju sebagai calon ketua umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor adalah batasan usia maksimal 40 tahun. Hal itu berdasar AD/RT Nahdlatul Ulama (NU) yang menyatakan batasan usia maksimal ketua Ansor dan organisasi kepemudaan di bawah naungan NU lainnya adalah 40 tahun.

Masalah batasan usia ini, pada Kongres GP Ansor XIV di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada 2011 silam sempat memicu kericuhan. Bahkan para pendukung calon kala itu nyaris adu jotos. Hasil kongres Ansor di Surabaya tersebut dimenangkan oleh Nusron Wahid yang waktu itu berumur 37 tahun.

Akankah masalah batasan usia itu kembali mengguncang Kongres Ansor kali ini? Semua serba mungkin mengingat pembahasan tata tertib baru dibahas malam ini.

Bila melihat profil usia sejumlah nama bakal calon yang namanya mencuat, sepertinya cuma Dhohir Faris (Politisi Gerindra) dan Hery Haryanto Azumi (Mantan Ketua Umum PMII) yang lolos syarat batas usia maksimal. Dhohir Faris yang juga menantu Gus Dur itu berumur 36 tahun (lahir 11 April 1979).

Sementara Hery Haryanto Azumi berumur 38 tahun (lahir 29 April 1977). Adapun Yaqut Cholil Coumas atau Gus Yaqut kini berusia 40 tahun lebih 10 bulan (lahir 14 Januari 1975). Sementara Kiai Abdussalam Sochib atau Gus Salam, berusia sekitar 40 tahun.

"Isu batasan usia calon ketua umum itu memang sensitif. Tapi masalah itu tergantung forum nanti," kata Sekretaris Pimpinan Pusat GP Ansor Fatkhul Maskur kepada merdeka.com, di sela Kongres Ansor XV di Pondok Pesantren Pandanaran, Sleman, Yogyakarta, Kamis (26/11) malam.

Masalah lain, sistem pemilihan ketua umum menggunakan mekanisme musyawarah untuk mufakat juga belum sepenuhnya diterima peserta kongres. Sistem ini baru akan dibahas dalam pembahasan tata tertib kongres malam ini.

Musyawarah mufakat ini, sama dengan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang dipakai dalam pemilihan ketua umum PBNU dalam Muktamar di Jombang beberapa waktu lalu. Dalam sistem ini, para pengurus cabang akan memilih sebelas perwakilan yang akan menjadi anggota tim formatur.

Tim inilah yang akan bermusyawarah menunjuk siapa ketua umum GP Ansor berikutnya menggantikan Nusron Wahid.

Di sisi lain, meskipun sebelas anggota tim formatur tersebut belum dibentuk, ternyata sudah muncul pernyataan dari Pengurus PP GP Ansor yang menyebut Gus Yaqut sudah pasti menang dan jadi ketua umum, sementara Dhohir Faris jadi wakil ketua umum.

"Settingan-nya seperti itu. Itu pasti sudah. Meskipun tim formaturnya belum dibentuk," kata Pengurus PP GP Ansor Imam Ma'ruf kepada merdeka.com.

Baca juga:
Gus Yaqut hampir pasti jadi ketum GP Ansor, Dhohir Faris jadi wakil
Pemilihan Ketum GP Ansor utamakan sistem musyawarah untuk mufakat
Biar acara sukses, Kongres GP Ansor hadirkan pawang hujan
Wapres Jusuf Kalla buka Kongres GP Ansor di Yogyakarta
Ansor bertekad jadi basis penggerak ekonomi demi tekan kemiskinan

(mdk/dan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.