8 Negara Asia-Pasifik ikuti konferensi pertama APIPEC di Solo
Ketua IYHPS, Daniel R Kambey mengatakan, Asia-Pasifik dengan populasi hampir separuh penduduk dunia belum memiliki jejaring tersebut. Padahal, belajar dari pengalaman Jepang, Thailand, dan Singapura, pendidikan dan layanan kesehatan terintegrasi sangat berpihak pada masyarakat.
Indonesia menjadi tuan rumah konferensi pertama Asia Pacific Interprofessional Education and Collaboration (APIPEC) yang digelar 13 hingga 14 November 2017, di Hotel Best Western Premier, Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah. Konferensi diikuti oleh 8 negara, yakni Singapura, Thailand, Hongkong, Jepang, Filipina, Malaysia, Nepal dan Bangladesh.
Dalam kesempatan tersebut, Indonesian Young Health Profesionals Society (IYHPS) menyampaikan gagasan dibentuknya jejaring pendidikan interprofesi dan praktik kolaborasi kesehatan di wilayah Asia Pasifik.
Ketua IYHPS, Daniel R Kambey mengatakan, Asia-Pasifik dengan populasi hampir separuh penduduk dunia belum memiliki jejaring tersebut. Padahal, belajar dari pengalaman Jepang, Thailand, dan Singapura, pendidikan dan layanan kesehatan terintegrasi sangat berpihak pada masyarakat.
"Kami tidak heran jika organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) sangat mendorong hal itu," ujar Daniel, usai pembukaan konferensi, Jumat (13/10).
Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Pelayanan Kesehatan, Akmal Taher menambahkan, ada bukti bahwa pendidikan interprofesi dan praktik kolaborasi menghasilkan indikator kesehatan yang lebih bagus. Menurut dia, praktik kolaborasi kesehatan ialah mengintegrasikan tenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu dalam menangani pasien.
"Mereka berada dalam satu tim yang saling melengkapi satu sama lain, sehingga menjadi lebih efisien. Pasien menjadi titik berat yang dilayani tim," katanya," katanya.
Dengan kerja tim seperti itu, lanjut dia, pasien tidak hanya mendapatkan layanan kesehatan yang lebih baik, tetapi juga lebih murah dari aspek biaya karena menggunakan sistem paket.
Gagasan IYHPS itu mendapatkan dukungan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Sekretaris Direktorat Jendral Sumber Daya Iptek Dikti, John Henry menegaskan sudah ada ada komitmen bersama dengan Kementerian Kesehatan mengenai hal itu. Salah satunya dengan cara memperbaiki kurikulum di fakultas kedokteran dan lembaga pendidikan profesi kesehatan yang lain.
"Pendidikan interprofesi dan praktik kolaborasi merupakan gagasan generasi muda yang patut diacungi jempol. Apalagi jika hal itu kemudian mendapatkan dukungan regulasi, baik dalam penyelenggaraan pendidikan maupun pelaksanaan pekerjaan," jelasnya.
Sementara itu, staf khusus Direktorat Jendral bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Aprilia Ekawati Utami menambahkan, Kemenristekdikti telah menyiapkan langkah konkrit terkait hal itu.
" Sejak 2010 kami sudah merencanakan membentuk pusat studi interprofesi dan kolaborasi praktik kesehatan," tutup Aprilia.
Baca juga:
Gaya pedagang Pasar Klewer berlenggak-lenggok bak model
Ratusan payung rajut se-Nusantara akan meriahkan Festival Payung Indonesia di Solo
Pemkot Solo manfaatkan halaman Benteng Vastenburg untuk tempat parkir
Solo segera miliki Pembangkit Listrik Tenaga Sampah
Bangun flyover Manahan, sejumlah ruas jalan di Solo dialihkan
KAI sebut kereta tua penyebab KA Prameks kerap terlambat
Solo Batik Carnival X diwarnai adu jotos panitia dan penonton