73 Ribu pengguna narkoba di Aceh belum direhabilitasi
73 ribu pengguna narkoba di Aceh belum direhabilitasi. Padahal mereka butuh cepat dilakukan rehabilitasi agar bisa pulih kembali dari ketergantungan pengaruh narkoba. Namun sekarang belum bisa dilakukan karena keterbatasan fasilitas.
73 ribu pengguna narkoba di Aceh belum direhabilitasi. Padahal mereka butuh cepat dilakukan rehabilitasi agar bisa pulih kembali dari ketergantungan pengaruh narkoba. Namun sekarang belum bisa dilakukan karena keterbatasan fasilitas.
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol Faisal Abdul Naseer mengatakan, pihaknya baru bisa merehabilitasi pengguna narkoba sebanyak 4.500 orang. Sedangkan yang telah direhabilitasi sejak 2014 lalu sebanyak 800 orang.
"Faktor utama kenapa kita belum bisa rehab yang 73 ribu itu, karena keterbatasan rumah singgah untuk rehab, kita belum ada rumah sakit khusus di Aceh," kata Faisal Abdul Naseer kepada wartawan di kantor BNNP Aceh, Banda Aceh, Senin (18/12).
Saat ini baru ada satu rumah singgah, sebutnya, untuk merehabilitasi 4.500 pengguna narkoba. Untuk bisa merehabilitasi semuanya, dibutuhkan empat rumah singgah di Aceh.
Menurutnya, rumah singgah yang diperlukan satu di Banda Aceh, wilayah Selatan Aceh, wilayah Timur Aceh dan wilayah Tengah Aceh. Bila memiliki empat rumah singgah, maka proses rehabilitasi pengguna narkoba bisa dilakukan cepat.
"Kendala besar sekarang adalah belum ada fasilitas, rumah singgah untuk rehabilitasi mereka hanya baru ada satu," tegasnya.
Faisal sudah berkomunikasi dengan beberapa kabupaten/kota yang sudah berkomitmen untuk menyediakan rumah singgah, khusus untuk merehabilitasi pengguna narkoba di kabupaten tersebut.
"Kita berharap pemerintah daerah mau peduli dan membangun rumah singgah untuk merehabilitasi mereka pengguna narkoba," jelasnya.
Peredaran narkoba di Aceh sudah pada titik akut. Pasalnya peredaran narkoba masuk masuk ke perkampungan dan bahkan sekolah-sekolah. "Tentu ini sangat mengkhawatir, jadi saya mengajak seluruh komponen untuk bersama-sama perangi narkoba di Aceh," tegasnya.
Pada tahun 2018, BNNP Aceh akan memperbanyak melakukan pencegahan dengan melakukan sosialisasi ke berbagai lembaga. Baik itu berkunjung ke sekolah, pesantren, menggandeng tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan juga para ulama di Aceh untuk secara bersama-sama memberantas narkoba.
"Peran ulama sangat penting, karena Aceh menerapkan syariat Islam. Selain itu saya juga akan masuk secara berkearifan lokal untuk melakukan pencegahan peredaran narkoba di Aceh," tutupnya.
Baca juga:
Anies sebut tak ada kompromi dengan narkoba
Reaksi tersangka saat pemusnahan barang bukti narkoba: Menangis hingga tertawa santai
Ini alasan Pemprov DKI langsung tutup permanen Diskotek MG
Polisi tangkap pengedar narkoba asal Sampang
Anies jadikan kasus Diskotek MG sebagai bahan evaluasi