LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

6 Teroris jaringan Santoso dipindah dari Poso ke Jakarta

Kelompok teroris ini telah membunuh warga masyarakat yang berkebun di sekitar keberadaan mereka.

2015-01-24 11:01:47
Tahanan Terorisme
Advertisement

Satgas khusus anti-teror Densus 88 Polri membawa 6 tersangka teroris dari Poso menuju ke Jakarta. Keenam tersangka tersebut merupakan jaringan teroris kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso dan Daeng Koro di Poso yang bertugas sebagai kurir logistik, pendanaan teror dan membantu keperluan pok MIT.

Sumber kepolisian mengatakan, mereka ditangkap dalam operasi yang digelar Densus 88 dan Polda Sulteng beberapa pekan ini untuk melakukan penegakan hukum terhadap kelompok teroris MIT yang telah meresahkan masyarakat Poso dan mengancam keutuhan masyarakat Poso.

Kelompok teroris ini telah membunuh warga masyarakat yang berkebun di sekitar keberadaan mereka agar masyarakat tidak melapor ke Polri.

Adapun 6 tersangka yang dipindahkan dari Palu ke Jakarta antara lain:

1. Ahmad Wahyono alias Yono Adem alias Yono Adim (28), kelahiran Kilosembilan 23 April 1986. Wahyono merupakan warga Kecamatan Lage, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Dia ditangkap pada Rabu, 10 Desember 2014 sekitar pukul 06.19 WITA di Perempatan Jalan Kalimantan-Jalan P Seram Poso.

Dia disebut mengetahui kasus bom Polres Poso karena bom itu dibuat di rumahnya. Kemudian dia juga disebut sebagai bendahara dan penyuplai logistik kelompok Santoso di gunung.

2. Farid Ma'ruf alias Farid Tinombo, kelahiran Toli-Toli 23 Oktober 1982. Dia merupakan seorang pedagang, warga Dusun Satu Siavu, Desa Tinombo. Farid ditangkap pada Kamis, 11 Desember 2014 pukul 06.20 WITA di Jalan Trans Sulawesi Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong menuju Pasar Siavu.

Farid bersama Wahyono disangka ikut pelatihan militer (tadrib) yang diselenggarakan kelompok MIT pimpinan Santoso. Dia juga menerima hasil pencurian sepeda motor dalam Rangka Fa'i dari kalman. Dia pernah bersembunyi di Pondok Daeng Koro, ikut meracik bom bersama Yono, Ato dan Kholid yang mengajari almarhum Arif (bom cair).

Farid Tinombo juga disebut-sebut sebagai penerus bendahara POK Santoso. Dia ikut melempar bom kepada anggota pada saat penangkapan Ustaz Yasin dan Kholid di kanyamanya Poso.

3. Hasan dan Rosmawati (suami-istri) ditangkap pada Sabtu , 10 Januari 2015 pukul 14.15 WITA di depan SMP 4 Poso. Keduanya terlibat membantu pengurusan dan pemberian dana untuk POK MIT. Rosmawati bertugas menampung dan mengelola dana yang dikirim untuk kegiatan POK Santoso dan menyiapkan serta mengantar logistik POK MIT. Keduanya juga mengetahui keberadaan para DPO Poso.

4. Amirudin alias Aco Tabalu alias Aco Gula Merah alias Bunga Desa. Warga Kelurahan Tabalu, Kecamatan Mapane, Kabupaten Poso. Dia ditangkap pada Minggu, 11 Januari 2015 pukul 12.23 WITA di depan rumah sakit poso. Dia disebut-sebut sebagai kurir pendukung logistik POK MIT, mengetahui persembunyian DPO teroris dan ikut iukut pelatihan militer bersama POK MIT.

5. Imran alias Lagenda, ditangkap Senin, 12 Januari 2015 pukul 07.00 WITA di rumahnya Desa Tabalu, Kecamatan Mapane Poso. Dia disangka terlibat terorisme karena perannya sebagai kurir aktif Santoso, menyembunyikan DPO Santoso dan menyediakan tempat untuk tinggal POK Santoso, serta memfasilitasi pertemuan antara Santoso dengan istrinya serta Basri dengan istrinya di pondok kebunnya.

Saat ini para tersangka dibawa ke Jakarta dan akan ditempatkan di Markas Komando (Mako) Brimob Polri untuk proses penyidikan lebih lanjut. Hingga saat ini, Polri masih terus melakukan operasi untuk memburu dan mengungkap jaringan Santoso di Gunung.

"Diimbau kerja sama dari semua pihak untuk saling mendukung penanggulangan terorisme di Poso yang sudah sangat meresahkan warga masyarakat Poso," ujar sumber tadi.

Dia menegaskan, keenam teroris itu berangkat dari Poso menggunakan Pesawat Lion Air JT723 dari Palu pukul 09.00 WITA dan diperkirakan sampai ke Bandara Soekarno Hatta, sekitar pukul 10.00 WIB. "Sampai Jakarta sekitar pukul 10-an," kata sumber kepolisian yang ogah disebut namanya tersebut.

Baca juga:
Bisnis tahanan teroris dari balik sel
Tahanan bergengsi di Pondok Rajeg

Advertisement
(mdk/mtf)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.