5 Cerita di balik kekerasan praja IPDN disiram air keras
Berikut lima kisah di balik kekerasan Praja IPDN disiram air keras:
Belum usai pilu peristiwa kekerasan hingga berujung kematian di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, pendidikan pemerintah kembali tercoreng akibat sistem liar senioritas. Kejadian mengerikan tersebut bermula dari kegiatan para civitas akademika IPDN ke Gunung Manglayang, Cileunyi, Kabupaten Bandung, pada Minggu 27 April lalu sore. Kegiatan itu diikuti sejumlah praja wanita tingkat II dan III. Di sana lah cek-cok terjadi hingga menyebabkan adanya dugaan adu jotos. Senior menyiramkan cairan keras kepada lima junior. Dokter Spesialis Infeksi Imunologi RS Mata Cicendo Susi Heryati membenarkan menangani lima praja IPDN terkena cairan asam. IPDN membantah hasil pemeriksaan lima praja oleh RS Mata Cicendo. IPDN bersikeras bahwa kelimanya hanya kecipratan tanah liat, bukan terkena air keras. Selain membantah lima praja terkena siraman air keras, IPDN juga terkesan menutupi kasus tersebut. Hal itu diakui Kapolsek Jatinangor Kompol Roedy de Vries. Polsek Jatinangor Sumedang akan mengusut adanya dugaan penyiraman air asam terhadap lima praja putri tingkat II IPDN.
Lima Praja putri Institute Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) harus dilarikan ke rumah sakit, setelah mengikuti kegiatan civitas yang berujung adu jotos antara senior dan junior.
Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan di rumah sakit, kelimanya dipastikan terkena cairan asam, dua di antaranya positif menderita pengelupasan epitel kornea mata. Namun anehnya, pihak kampus membantah semua hasil pemeriksaan rumah sakit.
Berikut lima kisah di balik kekerasan Praja IPDN disiram air keras:Cekcok berujung penyiraman air keras
Kelimanya adalah Mutia Pratama, Indira Afriani, Nurul Riza, Dian Purna Sari dan Fungki Sandi praja wanita tingkat II. Kepolisian Jatinangor mengakui pihak kampus terkesan menutup-nutupi kasus tersebut.Hasil pemeriksaan RS membuktikan kebenaran
"Ya benar ada (pasien), mereka terkena cairan asam, kita tidak tahu lebih jelas tetapi ada trauma," katanya di RS Cicendo Bandung, Selasa (29/4).
Untung kelimanya masih bisa ditangani. "Ya untung asam, bukan basa," ujarnya.
Dua dari lima korban mengalami luka di mata berupa pengelupasan epitel kornea. Selebihnya mengalami iritasi di permukaan mata.IPDN bantah hasil pemeriksaan RS Mata Cicendo
"Minggu itu kan hujan suasana becek. Terciprat itu mata kena iritasi dari tanah liat. Dan itulah yang kemudian kami bawa ke klinik (kampus) lalu ke rumah sakit AMC dan kemudian ke Rumah Sakit Cicendo untuk dibersihkan," kata Kepala Biro Kemahasiswaan Bernhard.
Dia berdalih para prajanya tidak mungkin membawa air keras untuk kegiatan tersebut.IPDN terkesan menutupi kasus
Data yang diterima Kepolisian sangat minim. Sehingga pihaknya akan mencari informasi lain untuk mengungkap kebenaran kasus itu.Polisi dalami kasus penyiraman air keras
"Dari reserse memang ada informasi yang masuk. Enggak tahu baku hantam atau siram-siraman, tapi (korban) sempat periksa mata di Rumah Sakit Mata Cicendo," kata Kapolsek Jatinangor.