Lamborghini dijadikan taksi, keren atau justru menghina?
Memang tidak ada maksud menghina, pasalnya tidak ada peraturan supercar tidak boleh digunakan sebagai taksi.
Ada-ada saja. GrabTaxi baru-baru ini membuat gebrakan dengan menggunakan 10 unit mobil Lamborghini sebagai armada transportasi di Jakarta.
Ini cukup membuat banyak orang jadi kepingin untuk merasakan duduk di jok mobil mewah sekelas Lamborghini tapi dengan 'embel-embel' taksi. Bagi orang umum, itu adalah terobosan besar, namun apa pendapat para penggila mobil mewah? Tentu berbanding terbalik.
"Sayang jika supercar atau mobil-mobil mahal dijadikan sebagai armada taksi. Nilai eksklusifitasnya jadi hilang," ujar salah seorang Importir Umum, seperti yang dikutip dari Otosia (22/10).
Menurutnya, bisa saja pihak prinsipalnya mengajukan surat keberatan karena produknya bukan untuk dijadikan taksi. "Seperti yang pernah dilakukan salah satu prinsipal supercar pada dua tahun lalu," tambahnya.
Jika dikaji ulang, penggunaan Lamborghini sebagai sarana transportasi umum seperti GrabTaxi kemungkinan besar akan membuat para penggila mobil mewah jadi berang. Mereka yang membeli mobil dengan harga mahal, berharap eksklusivitas, serta kebanggan. Namun itu semua tiba-tiba hilang saat mengetahui Si Banteng asal Italia ini berubah jadi taksi.
Memang tidak ada maksud menghina, pasalnya tidak ada peraturan supercar tidak boleh digunakan sebagai taksi. Hanya saja ini lebih ke pendapat personal saja. Pihak GrabTaxi berpendapat bahwa hal ini dilakukan agar banyak orang berkesempatan menikmati perjalanan dengan supercar.
So, apa pendapat Anda?
Baca juga:
Akhir pekan, warga Jakarta bisa naik Lamborghini gratis
GrabTaxi berambisi lebarkan sayap hingga Eropa
Dari Malaysia, GrabTaxi bawa uang Rp 1,8 T garap pasar Indonesia
Kemenhub apresiasi keberadaan GrabTaxi
GrabCar milik GrabTaxi, bantah kesamaan bisnisnya dengan Uber