Kuasai otomotif Indonesia, mengapa Astra tak bikin mobil sendiri?
Kuasai otomotif Indonesia, mengapa Astra tak bikin mobil sendiri? Hingga kini Astra belum ada rencana membuat merek produk otomotif sendiri, seperti mobil Astra. Meski fasilitas R&D ADM akan mampu membuat full change model, untuk merek, tetap saja milik principal, dalam hal ini Daihatsu.
Perusahaan raksasa PT Astra International Tbk targetkan mampu membuat full change model kendaraan otomotif roda empat pada 2019/2020. Ini bagian dari Goal 2020 yang menjadikan Astra sebagai Pride of Nation.
Kemampuan full change model tersebut dicapai lewat fasilitas riset dan pengembangan (R&D) milik PT Astra Daihatsu Motor (ADM). Di ADM, Astra memiliki kepemilikan saham 31,78 persen. Selain Daihatsu, Astra bekerja sama dengan principal Toyota, Isuzu, UD Trucks, Peugeot, dan BMW di lini bisnis otomotif yang digeluti sejak 1970-an.
Pada tahun lalu, bisnis otomotif Astra meraih laba bersih Rp 9 triliun, naik 23 persen dari tahun sebelumnya. Astra menguasai pasar otomotif Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 56 persen.
Tantangannya adalah mampukah Astra membikin mobil dengan merek sendiri?
Merdeka.com menanyakan tantangan itu kepada Sudirman MR, Direktur Astra International yang juga Presiden Direktur ADM.
"Branding Astra sendiri? Nggak lah, kami tetap akan bekerja sama dengan principal. Maka itu, ada Astra Daihatsu Alya dan Sigra di segmen mobil low cost green car/LCGC," jawab Sudirman kepada Merdeka.com, baru-baru ini.
Menurut dia, hingga kini Astra belum ada rencana membuat merek produk otomotif sendiri, seperti mobil Astra. Meski fasilitas R&D ADM akan mampu membuat full change model, untuk merek, tetap saja milik principal, dalam hal ini Daihatsu.
"Jadi mobil Astra belum ada. Yang ada adalah kami ingin melengkapi R&D ADM sehingga bisa melakukan full change model. Targetpada pada 2010/2020," kata Sudirman.
Fasilitas R&D ADM berada di Karawang sejak 2013, bersamaan dengan pabrik baru dengan kapasitas sekitar 500 ribu unit per tahun. Beberapa fasilitas R&D tersebut, antara lain studio desain, test course untuk uji coba kendaraan untuk lebih dari 20 jenis simulasi kondisi jalan ekstrim yang ada di Indonesia, dan engineering center.
Namun, kemampuannya belum lengkap, sehingga baru mampu melakukan minor change model, seperti minor change pada model Terios dan Luxio.
Baca juga:
Di Otomotif, Astra targetkan mampu full change model di 2019/2020
Keren, Astra keruk laba Rp 9 triliun dari bisnis otomotif 2016!
Astra tak tertarik beli saham Freeport
60 Tahun, Astra terus berinovasi sejak krisis 98
Astra catat laba bersih semester I Rp 7,1 triliun, turun 12 persen