Mencari pusara korban tragedi 65
Ada 122 titik lokasi disebut menjadi pusat pembantaian sekaligus kuburan masal tersebar di berbagai tempat di Indonesia
"Presiden tadi memberitahu bahwa memang disuruh cari aja kalau ada kuburan massalnya," ujar Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta akhir bulan lalu. Sejak saat itu, desakan untuk mencari lokasi kuburan massal tragedi 1965 mulai menjadi perhatian. Apalagi dengan pencarian kuburan itu, pemerintah diharapkan meminta maaf kepada para korban.
Luhut pun mengatakan sejauh ini isu soal ribuan orang menjadi korban dalam tragedi itu sama sekali belum memiliki bukti. "Sebab selama ini berpuluh-puluh tahun kita selalu di cekoki bahwa ada sekian ratus ribu orang yang mati. Padahal sampai hari ini belum pernah kita temukan satu kuburan massal," kata Luhut.
Jauh sebelum isu kuburan massal tragedi 1965 bergulir, Bulan Oktober 2015 ada pembongkaran kuburan massal diduga bekas anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di di Jalan Banjar Masean, Desa Batuagung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali. Dari hasil penggalian, hanya ditemukan sembilan kuburan diduga bekas anggota PKI. Tujuh jasad merupakan warga Masean, sedangkan dua jasad lagi merupakan warga Pandak dan Kelurahan Lelateng, Jembrana.
Kerende, 96 tahun, saksi mata tragedi pembantaian itu menuturkan, para korban dibunuh sekitar tahun 1966 setelah kejadian di Pulau Jawa. Setelah anggota PKI di Pulau Jawa menyerah, anggota yang berada di Pulau Bali juga melakukan hal serupa. "Termasuk yang di Mesean ini. Para anggota PKI yang memang warga sini tidak ada yang berani melawan. Semuanya menyerah," ujarnya dengan Bahasa Bali.
Setelah mereka menyerah, kemudian para anggota diduga PKI itu ditangkap dikumpulkan. Mereka kemudian dibawa ke sebuah tempat untuk dibariskan dan dibunuh. "Saya sendiri melihatnya sambil mengintip di balik semak-semak bersama beberapa pemuda kala itu," ujar Kerende mengenang peristiwa mencekam kala itu.
Sejatinya, keberadaan pusara korban tragedi 1965 ini memang masih menjadi misteri belum terungkap hingga kini. Sulitnya menemukan kuburan massal itu pun didasari oleh banyak hal, termasuk salah satunya adalah berubahnya lokasi disebut-sebut lokasi pembantaian massal. Dalam catatan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) setidaknya ada 122 titik lokasi disebut menjadi pusat pembantaian sekaligus kuburan masal tersebar di berbagai tempat di Indonesia.
Dari 122 tempat itu, baru dua persen terungkap. Sisanya masih dalam pencarian. "Yang paling besar di Jawa Tengah ada 50 titik seperti di Boyolali, Pati, Wonogiri, Pemalang, Pekalongan, Klaten dan Solo," kata Ketua YPKP Bedjo Untung saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa pekan lalu.
Selain lokasi terbanyak disebut berada di Pulau Jawa, Bedjo mengatakan jika beberapa titik kuburan massal itu juga terdapat di beberapa daerah Pulau Sumatera. Dia menyebutkan jika titik-titik lokasi itu berada di Kabupaten Pesisir Selatan, Lubuk Pasung, Bukit Tinggi-Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Pulau Kemaro-Palembang, Lembah Delta Sungai Musi-Sumatera Selatan. Menurut Bedjo, banyaknya lokasi kuburan massal di Pulau Jawa seperti daerah tengah Jawa karena memang tempat-tempat itu menjadi basis suburnya pergerakan PKI.
Ketua YPKP Daerah Pati, Jawa Tengah, Pardi menyebutkan, ada tujuh titik lokasi di daerahnya yang disebut-sebut menjadi lokasi kuburan massal korban 1965. "Ada Tujuh titik di Pati," kata Pardi.
Selain di Pulau Jawa dan Sumatera, Bedjo mengatakan jika saat ini YPKP sedang menelusuri jejak kuburan massal korban pembantaian tahun 1965 di daerah Tangerang, Banten. Menurut dia, letak kuburan massal itu berada di daerah Cikokol, dekat dengan Lapas Pemuda dan Wanita Kota Tangerang. Namun hal itu menurut Bedjo masih perlu dikonfirmasi mengingat lokasi tempat yang disebutkan oleh saksi mata sudah banyak mengalami perubahan.
"Ini pun perlu di konfirmasi. Untuk di Tangerang perlu survei yang mendalam. Saya Pikir ini lokasi yang kosong berada sekitar 100 sampai 200 meter dekat dengan Kompleks Kehakiman Kota Tangerang," ujar Bedjo.
Baca juga:
Marak isu kebangkitan PKI untuk jegal penuntasan kasus HAM 1965
Luhut naik pitam didesak ungkap kasus 65
Pemerintah investigasi kuburan massal korban tragedi 1965
Geramnya Luhut Pandjaitan tak mau didikte asing soal tragedi 1965
Menko Luhut geram dicecar wartawan asing soal peristiwa 1965
Jangan lewatkan:
Duh, 7 Posisi seks ini ternyata berbahaya dan bikin kamu menderita
8 Faktor yang bikin harga mobil 'anjlok'
Cerita polisi minta masuk tol gratis hingga mencekik petugas
5 Kesalahan atur uang bisa bikin miskin seumur hidup
Aksi brutal ratusan suporter West Ham lempari bus MU dengan botol