Radjiman Wediyodiningrat, Dokter Rakyat yang Aktif Perjuangkan Kemerdekaan RI
Dokter Radjiman Wedyodiningrat bekerja keras mengobati masyarakat Ngawi dari ancaman wabah pes. Ia juga belajar ilmu kandungan karena saat itu banyak ibu hamil yang meninggal karena melahirkan.
Lahir di Yogyakarta 21 April 1879, dr. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat memilih mengabdi untuk masyarakat Ngawi, Jawa Timur.
Sejak tahun 1934, pria yang menjadi dokter sejak usianya masih 20 tahun itu memilih tinggal di Dusun Dirgo, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.
Pilihannya belajar ilmu kedokteran dilatarbelakangi oleh rasa prihatinnya terhadap kesehatan masyarakat saat itu.
Ia kemudian bekerja keras mengobati masyarakat Ngawi dari maraknya penyakit pes. Secara khusus, ia belajar ilmu kandungan untuk menyelamatkan generasi masa depan. Pasalnya saat itu banyak ibu hamil di Ngawi yang meninggal dunia setelah melahirkan.
Tokoh Perintis Kemerdekaan
Dokter Radjiman terlibat aktif dalam berbagai perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Mulai dari munculnya gagasan membentuk organisasi pemuda Boedi Oetomo hingga menjadi Ketua BPUPKI.
Kiprah besarnya bagi organisasi pemuda Boedi Oetomo ialah mengusulkan pembentukan milisi rakyat di setiap daerah di Indonesia.
Kini, rumah kediaman Dokter Radjiman di Ngawi telah berusia 134 tahun. Semasa hidupnya, Presiden Soekarno pernah dua kali bertandang ke rumah Dokter Radjiman. Hal ini menunjukkan adanya kedekatan emosional antara Presiden Soekarno dengan sosok Radjiman Wediyodiningrat.
Guru Kehidupan
Dalam perjalanan hidupnya, ada dua sosok yang berpengaruh pada pribadi dan pemikiran Radjiman. Pertama ialah dr. Wahidin Soedirohusodo.
Wahidin menjadi ayah angkat Radjiman semasa ia sekolah dalam kondisi kekurangan dana. Saat itu, Wahidin sudah menjadi tokoh penting.
Sosok lain yang juga cukup berpengaruh bagi pribadi dan pemikiran Radjiman ialah Pakubuwono X. Pengabdian Radjiman menjadi dokter Keraton Surakarta membuat Pakubuwono memberikan gelar Wedyodiningrat kepadanya.
Pemberian gelar bangsawan ini mengangkat status sosial Radjiman di lingkungan istana. Bahkan juga turut berpengaruh ke dunia luar keraton, khususnya dunia politik.
Posisi ini membuat Radjiman mantap menapaki dunia politik praktis. Secara operasional, Radjiman menghubungkan keraton dengan organisasi Boedi Oetomo. Ia berhasil memobilisasi tokoh-tokoh pergerakan yang lebih muda. Dalam melakukan mobilisasi inilah ia bertemu Soekarno, sosok yang mempengaruhi aktivitas politik Radjiman dari yang semula nasionalisme Jawa menuju nasionalisme Indonesia.
Kontribusi untuk Ngawi
Terhitung sejak tahun 1934 hingga 1952, Dokter Radjiman Wedyodiningrat memberi kontribusi besar dalam bidang kesehatan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi, Radjiman mengembuskan napas terakhirnya pada 20 September 1952 di Desa Dirgo, Widodaren, Ngawi.
Jenazahnya kemudian dikebumikan di Desa Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdekatan dengan makam dr. Wahidin Sudirohusodo, orang yang berjasa besar bagi perjalanan kariernya sebagai dokter pelayan masyarakat.
(mdk/rka)