Fakta Unik Masjid Agung Jami' Malang, Perpaduan Arsitektur Jawa-Arab Menyihir Mata
Berbeda dari masjid lain, Masjid Agung yang terletak di Jalan Merdeka Barat Kota Malang itu memiliki dua gaya arsitektural. Ini sederet fakta uniknya.
Masjid Agung Jami’ Malang didirikan di atas tanah negara dengan luas sekitar 3.000 meter persegi.
Masjid yang dibangun dalam dua tahap yakni pada tahun 1890 dan 1903 itu berbentuk bujur sangkar dengan struktur baja, atapnya berbentuk tajug tumpang dua. Hingga saat ini, bangunan asli tersebut masih dipertahankan.
Berbeda dari masjid lain, masjid agung yang terletak di Jalan Merdeka Barat Kota Malang itu memiliki dua gaya arsitektural.
Gaya Arsitektural
©2022 Merdeka.com/Dok. Masjid Agung Jami' Malang
Dari bentuknya, Masjid Agung Jami’ Malang memiliki gaya arsitektural Jawa dan arsitektur Arab. Arsitektur Jawa terlihat dari bentuk atap masjid yang berbentuk tajug.
Sedangkan arsitektur Arab terlihat dari bentuk kubah pada menara dan konstruksi lengkung pada pintu dan jendela.
Bangunan masjid ini ditopang oleh empat soko guru utama yang terbuat dari kayu jati dan 20 tiang. Dilansir dari laman resmi Kemenparekraf RI, meskipun Takmir Masjid Agung Jami’ Malang melakukan renovasi, namun bangunan asli masjid tetap dipertahankan.
Sakral
©2022 Merdeka.com/Dok. Masjid Agung Jami' Malang
Pada dasarnya, seluruh bagian bangunan Masjid Agung Jami’ Malang mulai batas suci tergolong sakral. Hal ini tampak dari adanya perbedaan peil lantai yang terlihat mencolok, di mana bagian lantai bangunan berjarak setinggi 105 cm dari muka tanah bangunan di sekitarnya.
Di bagian mihrab (tempat imam) lebih sakral lagi, hal ini tampak dari peninggian peil lantai pada bagian tersebut. Bahkan, hingga kini di belakang mihrab masih ada beberapa makam leluhur pendiri masjid.
Mengutip dari laman resmi Masjid Agung Jami’ Malang, sebagian masyarakat meyakini bahwa masjid ini termasuk salah satu masjid kharismatik yang memiliki tempat mustajab.
Selain Masjid Agung Jami’ Malang, dua masjid lain yang dianggap memiliki tempat mustajab adalah Masjid Ampel Surabaya dan Masjid Jami’ Pasuruan.
"Seperti di Masjid Agung Jami’, beberapa kiai atau tokoh sepuh jika melakukan I’tikaf itu memilih di sekitar tiang bangunan utama atau di cagak besar bagian tengah," tutur Takmir Masjid Agung Jami’ Malang, HM Kamilun Muhtadin.