Merapi Bergejolak, Para Pengungsi Ini Justru Dipulangkan
Pada Selasa (26/1) pukul 05.01 WIB, Gunung Merapi kembali bergejolak dengan mengeluarkan luncuran awan panas sejauh 1.000 meter. Namun di saat yang bersamaan, para pengungsi Merapi di Kecamatan Cangkringan justru dipulangkan. Ada apa?
Pada Selasa (26/1) pukul 05.01 WIB, Gunung Merapi kembali bergejolak dengan mengeluarkan luncuran awan panas sejauh 1.000 meter. Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan bahwa guguran awan panas itu meluncur ke hulu Kali Krasak dan Kali Boyong dengan tinggi kolom 400 meter dan berlangsung selama 104.08 detik.
Malam hari sebelumnya, Senin (25/1), Gunung Merapi juga telah mengeluarkan tiga kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal 600-1.000 meter dan 14 kali guguran lava pijar ke arah barat daya atau ke arah hulu Kali Krasak dan Kali Boyong dengan jarak luncur 300-700 meter. Berdasarkan pengamatan itu, BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas Merapi masih cukup tinggi dan memiliki ancaman berupa erupsi efusif.
Namun di sisi lain, di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, para pengungsi Merapi justru dipulangkan. Sebenarnya mengapa mereka dipulangkan saat status Gunung Merapi sedang tinggi-tingginya? Berikut selengkapnya:
Dipulangkan
©2020 Liputan6.com/Johan Tallo
Pada Selasa (26/1), warga lereng Gunung Merapi yang mengungsi di barak pengungsian Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman mulai dipulangkan. Camat Cangkringan, Suparmono mengatakan, pemulangan itu dilakukan dengan menggunakan kendaraan pribadi milik warga agar protokol kesehatan tetap bisa dijalankan. Kebanyakan pengungsi yang pulang itu merupakan warga Dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan.
Dengan adanya pemulangan ini, warga pengungsi yang masih tinggal di barak pengungsian adalah sebanyak 173 orang. Mereka utamanya berasal dari kelompok rentan, termasuk warga lanjut usia.
Masih Siaga
©2021 AFP/AGUNG SUPRIYANTO
Suparmono mengatakan bahwa dari awal Pemerintah Kabupaten Sleman memang berencana memulangkan pengungsi dari barak pengungsian setelah PPKM berakhir pada 26 Januari 2021. Walaupun pada akhirnya masa PPKM itu diperpanjang hingga 8 Februari, namun kepulangan pengungsi tetap tidak dapat ditunda.
Dia menambahkan untuk saat ini Merapi masih dalam kondisi siaga. Apabila kondisi Merapi semakin mengkhawatirkan, kemungkinan besar para pengungsi yang sudah pulang itu diungsikan kembali.
“Kecamatan yang berada di wilayah KRB mohon untuk mengaktifkan posko dan memobilisasi relawan di wilayah masing-masing begitu juga dengan kelurahan. Namun semuanya tetap harus menerapkan protokol kesehatan,” kata Suparmono dikutip dari ANTARA pada Selasa (26/1).