Jogja Kembali Hadapi Potensi Darurat Sampah, Ini 4 Faktanya
Masalah darurat sampah di Kota Jogja sampai saat ini belum benar-benar terselesaikan. Masalah ini bahkan sudah seperti hantu, seketika muncul lalu hilang, dan begitu seterusnya hingga bertahun-tahun. Baru-baru ini, masalah itu muncul lagi dan semakin memprihatinkan.
Masalah darurat sampah di Kota Jogja sampai saat ini belum benar-benar terselesaikan. Masalah ini bahkan sudah seperti hantu, seketika muncul lalu hilang, dan begitu seterusnya hingga bertahun-tahun.
Biasanya, masalah ini muncul saat warga di sekitar pembuangan sampah Piyungan melakukan penutupan akses jalan. Baru-baru ini, mereka kembali menutup akses jalan itu.
“Bisa dihitung sendiri berapa volume sampah yang saat ini menumpuk di depo dan tempat pembuangan sementara serta tertahan di armada sampah karena belum bisa dibuang ke Piyungan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Sugeng Darmanto, dikutip dari ANTARA pada Senin (9/5). Berikut selengkapnya:
Potensi Darurat Sampah
©2020 liputan6.com
Sugeng mengatakan bahwa rata-rata sampah yang dibuang ke depo dan tempat pembuangan sampah saat ini mengalami kenaikan sekitar 15 persen dari volume sampah yang dihasilkan tiap hari di Kota Yogyakarta. Kenaikan itu dipicu oleh meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Yogyakarta selama libur Lebaran.
“Kami mampu menahan sampah di seluruh depo, tempat pembuangan sampah sementara, dan armada sampah selama maksimal lima hari. Lebih lama dari itu akan terjadi darurat sampah,” ujar Sugeng.
Lebih lanjut, rata-rata volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta mencapai sekitar 370 ton dan sebanyak 260 ton di antaranya dibuang ke TPA Piyungan. Sementara sisanya diserap oleh bank sampah dan pemulung.
Pengambilan Sampah Dihentikan Sementara
©2020 liputan6.com
Terkait penutupan di TPA Piyungan, DLH Kabupaten Bantul menghentikan sementara pengambilan sampah karena tidak punya alternatif lain tempat penampungan sampah.
Kepala DLH Bantul, Ari Budi Nugroho mengatakan bahwa pihaknya mengaku terus berkoordinasi dengan Pemerintah DIY terkait penutupan TPA Piyungan. Dia mengaku belum dapat info dari Pemda DIY sampai kapan kondisi ini akan terus begini.
“Kalau komunikasi jelas ada. Cuma kalau kebijakan lebih lanjutnya nunggu DIY. Karena yang jelas pada waktu aksi damai di lokasi kita bareng-bareng dengan teman-teman DIY. Cuma setelah itu kebijakannya seperti apa kami masih menunggu,” kata Ari, mengutip dari ANTARA.
Kelola Sampah Secara Mandiri
istimewa
Selain itu, DLH Bantul juga mengimbau pada masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri, syukur-syukur bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Sementara untuk sampah organik, warga bisa menyimpannya dalam sebuah lubang sebagai solusi sementara.
Ari berharap, pengelolaan sampah secara mandiri ini dilakukan tidak hanya semata-mata saat TPA Piyungan ditutup, namun juga dapat mengurangi volume sampah yang dihasilkan Kabupaten Bantul.
“Sampah yang dibuang ke Piyungan dari DLH Bantul kurang lebih 90-100 ton per hari. Tapi sampah di Bantul ada yang dikelola pihak swasta, sehingga seharusnya total per hari 170-180 ton yang dibuang ke TPA Piyungan,” kata Ari.
Warga Piyungan Keluhkan Limbah
©2021 Merdeka.com/Muhammad Biondy
Seperti diketahui, pada Sabtu (7/5) warga di sekitar TPA Piyungan menuntut audiensi dengan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X untuk menolak pembuangan sampah di sana. Mereka mempertanyakan izin penggunaan TPA yang menurut mereka sudah habis pada Maret 2022.
Selain itu, mereka juga mengeluhkan dampak dari limbah sampah yang sudah mengalir melalui parit-parit kecil. Mereka menilai kondisi TPA Piyungan sudah semakin memprihatinkan dan sudah tidak bisa lagi dipaksakan untuk pembuangan sampah. Bahkan sumur-sumur rumah warga yang rumahnya di sekitar tempat pembuangan itu sudah tercemar.