Suhu politik Jakarta memanas, muncul lawan Ahok dan teman Ahok
Ahok mengatakan, menerima segala bentuk kritik, namun dia meminta agar kritik itu dilakukan secara elegan.
Keputusan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk menggusur permukiman Kampung Pulo, Jakarta Timur, berdampak luas. Tidak hanya menghadapi gugatan hukum, Ahok harus siap merasakan tensi politik ibu kota yang semakin panas.
Jika sebelumnya sudah ada gerakan Teman Ahok, yang banyak dicap sebagai ancang-ancang sang gubernur untuk nyalon di Pilgub DKI 2017 lewat jalur perseorangan, kini pasca-penggusuruan muncul gerakan tandingan: Lawan Ahok.
Seperti Teman Ahok, Lawan Ahok juga menggunakan media sosial untuk menggalang dukungan. Bahkan akun Twitter @LawanAhok sudah mendeklarasikan sebagai, 'Garda terdepan melawan Ahok.'
"Pembela Rakyat Kecil Yang Haknya Dirampas Ahok. Anti Pemimpin Arogan, Maka Itu Turunkan Ahok Sekarang Juga!!!" demikian bio akun Twitter yang sudah mempunyai pengikut nyaris seribu.
@LawanAhok sebenarnya sudah dibuat sejak 23 Mei 2015 atau sebelum penggusuran Kampung Pulo terjadi, namun gerakan ini semakin mendapat dukungan ketika penggusuran terjadi. Terlebih, di dunia nyata, gerakan dengan nama sama pernah mendemo rumah dinas Ahok di Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat pekan lalu.
Dalam tuntutannya, gerakan Lawan Ahok sedianya mendukung kebijakan Ahok untuk menormalisasi sungai Ciliwung atau Kampung Pulo. Namun, mereka menyayangkan cara-cara Ahok yang dinilai keras terhadap korban penggusuran.
"Ahok sudah menjelma layaknya monster bagi rakyat kecil dan sahabat orang kaya dalam melakukan relokasi warga," kata Ketua Gerakan Lawan Ahok, Tegar Putuhena di depan rumah dinas Ahok, Jakarta, Jumat (28/8).
Selain itu, melalui Tegar massa juga meminta kepada Ahok agar memimpin Jakarta dengan cara-cara yang manusiawi. Mereka juga berharap Ahok bisa membina, mengayomi dan melindungi warga Jakarta.
Perlawanan terhadap Ahok juga semakin nyata setelah memperoleh dukungan dari sejumlah elite. Mereka di antaranya pengamat transportasi Asas Tigor Nainggolan, aktivis senior Ratna Sarumpaet, sejarawan JJ Rizal dan Ketua Ciliwung Merdeka, Sandyawan Soemardi.
Menanggapi gerakan ini, Ahok bersikap santai. Bahkan cenderung menantang. Misalnya saja, dia menyarankan warga untuk demo di Balai Kota DKI, bukan di rumah dinasnya.
"Rumah dinas enggak ada saya, mau rapat. Kalau mau di sini (Balai Kota) saja sekalian supaya lebih dengar gitu saya," ujar Ahok di kantornya, Jumat (28/8).
Mantan bupati Belitung Timur itu mempersilakan siapa saja menyampaikan aspirasi sebagai bentuk kritik. Tetapi dia meminta agar dilakukan secara elegan tak mengganggu kepentingan umum.
"Hak semua orang demo, kan demokrasi. Demo di sini juga sekalian bilang gitu karena saya enggak pulang ke rumah. Kalau mau demo teriakin saya di depan lebih kosong jalannya," tuturnya.
Baca juga:
Terlalu banyak gebrakan wali kota sampai pusing ikuti gaya Ahok
Ahok tangkap PNS DPRD perekrut juru parkir ilegal di Balai Kota
Tak biasa-biasanya, Ahok akur dengan anggota DPRD, ajak rapat bareng
Tiap akhir pekan, Ahok buka Balai Kota jadi tempat tur warga Jakarta
Ahok sebut kantor sudin mau jadi rusun, walkot Jaktim kaget
Ahok ingin Jakarta punya 9 lapangan bola berstandar internasional
Ahok dukung PKL dagang di area Jakarta Islamic Center