Perahu eretan, dulu didayung kini ditarik pakai tambang
Sejak tahun 1970, warga menjadikan perahu eretan sebagai alat transportasi untuk menyeberang.
Di tengah transportasi di DKI Jakarta yang semakin modern, suasana berbeda terlihat di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) atau tepatnya di bawah pintu keluar PIK. Di sana tersedia jasa penyeberangan berupa perahu eretan.
Sudah ketinggalan zaman, pasti. Tapi perahu eretan tetap jadi daya tarik buat warga Kapuk Muara menyeberang dari Kali Kapuk Muara, menuju Kali Muara Baru, Muara Karang dan Jembatan Tiga, Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara.
Dadang (42), tukang eretan mengatakan, sudah menjalani profesi ini sejak tahun 1970-an. Dulu, kali itu jernih bahkan airnya bisa diminum.
"Ini dari tahun 1970-an, waktu itu belum ngeret pake tambang tapi ngedayung buat nyeberangin orang-orang yang bekerja ngeramban kangkung buat jualan ke pasar Muara Karang," ujar Dadang kepada merdeka.com di lokasi, Rabu (26/11).
Warga RT 01 RW 01, Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara itu menjelaskan, pada tahun 1985 baru lah perahu eretan tersebut menggunakan tambang dan bam.
"Airnya udah mulai deres dan sering pasang, makanya dari tahun 1985 sampai sekarang udah enggak pake dayung lagi. Nah tahun 2000-an mulai banyak tuh warga yang mau berangkat kerja dan sekolah bawa motor ikut nyeberang naik perahu eretan," jelasnya.
Baca juga:
Menengok perahu eretan, transportasi warga di Kapuk Muara
Nasib sopir angkutan umum Ibu Kota bingung tentukan tarif
Mulai hari ini, tarif penyeberangan naik rata-rata 7,1 persen
Mulai hari ini, tarif angkutan umum di Semarang naik 18 persen
Pemerintah tekan agar tarif angkutan umum tidak melonjak
Konsep di China ini bikin kereta tidak harus berhenti di stasiun