LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JAKARTA

Pandemi dan Cerita Sepi di Balik Tembok Sekolah

Gedung sekolah berlantai empat itu sepi dari hiruk pikuk proses belajar mengajar. Tak ada siswa dan siswi di sana. Hanya terlihat beberapa guru yang sedang berjaga. Kondisi ini sudah berlangsung sejak Maret 2020 lalu, lebih dari satu tahun lamanya. Penyebabnya karena pandemi Covid-19.

2021-06-18 07:36:35
Covid-19
Advertisement

Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Matahari sudah mulai meninggi. Tetapi ada hiruk-pikuk kesibukan di tempat ini.

Gerbang utama hanya terbuka sedikit. Orang-orang keluar masuk bisa dihitung jari. Kebisingan penuh ceria juga tak terdengar meski hanya sayup. Hanya deru mesin kendaraan lalu lalang mendominasi.

Begitulah gambaran suasana pagi sebuah gedung di Jalan Jati Padang, Kebagusan, Jakarta Selatan. Gedung sekolah berlantai empat itu sepi dari hiruk pikuk proses belajar mengajar. Tak ada siswa dan siswi di sana. Hanya terlihat beberapa guru yang sedang berjaga. Kondisi ini sudah berlangsung sejak Maret 2020 lalu, lebih dari satu tahun lamanya.

Advertisement

Penyebabnya karena pandemi Covid-19. Tak ada lagi belajar di sekolah. Tak ada lagi guru yang menerangkan pelajaran di kelas. Tak ada lagi canda tawa siswa yang asyik bersenda gurau di pinggir lapangan sekolah. Semua terlihat sepi.

Saat berkeliling, kelas-kelas di setiap lantai pun tertutup rapat. Terlihat bangku dan meja tersimpan rapi di sisi ruangan. Namun semua dalam keadaan bersih dan terawat. Di setiap lorong kelas juga terdapat tempat cuci tangan dan hand sanitizer.

Advertisement

©2021 Merdeka.com/Syifa Hanifah

Guru SMP Negeri 175 Jakarta, Sri Handayani, menyampaikan kesedihannya nyaris setahun lebih tidak bertemu dengan murid-murid. Sekarang ia hanya bisa memandangi gedung tempatnya belajar yang sepi.

"Harusnya di sini kita bisa lihat murid-murid, ini cuma gedung aja yang kita lihat. Sedih deh kalau pandemi ini nggak segera berakhir," kata Sri Handayani, saat bercerita kepada merdeka.com, Selasa (15/6).

Guru Bahasa Inggris ini suasana akrab antara murid dan guru. Biasanya, di luar jam belajar, Sri sering menyapa dan mengajak ngobrol murid-murid tentang apa saja. Tapi pandemi mengubah segalanya, bahkan dalam pemberian materi pelajaran dia merasa sangat tidak maksimal.

"Kita juga namanya mendidik maunya deket, bisa ketemu siswa bisa ngobrol bisa bertatap muka. Siswa bisa merasakan kalau kesulitan ini bisa langsung ngobrol sama gurunya. Kalau gini kan susah juga kita merasa nggak akrab kalau kita nggak ketemu." katanya.

Selama 1 tahun ini, sama sekali tidak ada kegiatan di sekolah. Bahkan kegiatan ekstrakurikuler dilakukan secara online atau daring hal ini guna mengurangi rasa jenuh siswa selama belajar di rumah. Jadi instruktur memberikan arahan ke siswa melalui video.

"Untuk mengurangi rasa kejenuhan siswa, sekolah mengharapkan ekskul tetap berjalan ada kegiatan di rumah anak juga bisa gerak dengan ekskul ada ada aktivitas yang terarah. Harapannya seperti, jadi tetap mengadakan ekskul daring," jelasnya.

Sri menambahkan, SMP Negeri 175 Jakarta sudah melakukan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM. Selama uji coba, PTM hanya dilakukan 3 kali seminggu dengan durasi 2 jam pertemuan. Siswanya pun dibatasi hanya 10 anak.

Untuk prokol kesehatan, semua sudah siap. Setiap lantai kelas terdapat tempat cuci tangan. Bahkan sekolah ini sudah menyiapkan ruang isolasi yang terdiri dari empat buah kasur. Bu Sri juga mengatakan selama PTM ini siswa diminimalisir berkumpul karena usai proses belajar siswa langsung pulang.

"Jadi anak selama PTM ini makan minum semua bekel sendiri, masker harus bawa ganti gadgetnya harus siap, antar jemput. Kumpul sama temennya ngobrol itu yang harus dihindari," katanya.

©2021 Merdeka.com/Syifa Hanifah

Sementara itu petugas kebersihan, Yono mengatakan kegiatan tidak ada yang berubah. Yono tetap datang ke sekolah untuk membersihkan sekolah.

Hanya saja pekerjaan Yono kini bertambah, ia harus menyemprotkan disinfektan usai anak-anak selesai melakukan uji coba PTM.

"Menjaga kebersihan, penyemprotan disinfektan lebih kerjaannya ada tambahannya juga," katanya.

Sebagai petugas kebersihan, Yono, bercerita, walau kini pekerjaan lebih ringan karena tidak terlalu berantakan akibat ulah siswa-siswa, tetapi hilangnya keramaian murid-murid di sekolah membuatnya kesepian.

"Rindu sama anak-anak iya pasti itu. Itu sudah risiko kalau berantakan itu kan kerjaan kita. kalau anak nggak berantakan kita nggak kerja," katanya sambil tertawa.

Tak berbeda jauh dengan SD Negeri 13 Pagi Jakarta Selatan, suasananya juga terlihat sepi. Hanya ruang guru saja yang terbuka dan ruang lain tertutup rapat.

Gedung sekolah berlantai satu ini tetap terjaga bersih dan terawat. Tanaman hijau di sekitarnya menambah kesan asri dan sejuk.

©2021 Merdeka.com/Syifa Hanifah

Nurul, Guru SD Negeri 13 mengatakan sejak Maret semua siswa dan siswi belajar di rumah. Hanya beberapa guru saja yang datang dengan bergilir. Sementara itu untuk operator sekolah harus masuk setiap hari.

Nurul juga merasakan kerinduan yang luar biasa kepada murid-muridnya. Ia rindu akan keceriaan anak didiknya.

"Kalau kita kangen ramenya kadang suka ada ngeselinnya ada tapi justru itu yang kadang kita refresh lagi lucu apalagi tahun kemarin saya pegang kelas satu mereka masih polos," katanya.

Selama daring ini banyak hal-hal yang tidak bisa ditemukan kalau belajar tatap muka. Kata Nurul, ia rindu dengan pertanyaan-pertanyaan dari muridnya. Karena selama daring anak didiknya lebih pasif.

"Kalau di rumah mereka jadi mendem gitu jarang ada yang nanya jarang," ujarnya.

Nurul menceritakan bahwa murid-muridnya sangat rindu sekolah, sangat rindu guru-gurunya. Bahkan sekolah saat ini sudah menyebar kuesioner kepada orang tua. Dan rata-rata dari mereka setuju jika pembelajaran tatap muka dilakukan tapi dengan prokes yang ketat.

"Anak-anak mau belajar di sekolah mereka kangen sama gurunya, sama kita juga kangen sama mereka," katanya.

©2021 Merdeka.com/Syifa Hanifah

Ditemui secara terpisah, Naufal seorang pelajar SMP di Jakarta, juga mengatakan rindu kumpul bahkan belajar di kelas bersama teman-teman dan gurunya.

Karena selama belajar di rumah, kebiasan-kebiasan bersama kawan-kawannya di sekolah tidak lagi dilakukan.

"Saya kangenin sih belajar bareng di kelas sama temen-temen, ngobrol langsung dan becanda sama temen-temen, sama makan jajan-jajanan di kantin," kata Naufal.

Tak berbeda jauh, Akmal yang memiliki hobi bermain bola kangen untuk bertanding bola di lapangan sekolah bersama teman-temannya.

"Rindu mengobrol bersama teman teman, bermain bola bersama." kata Akmal.

Baca juga:
Kasus Covid-19 Naik, Pelaksanaan Uji Coba PTM di Jakarta Ditunda Sementara
Pembukaan Belajar Tatap Muka, Gubernur Sumsel Ikuti Kebijakan Mendikbud
Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Bisa Dilakukan di Luar Kelas
Kemendikbud Tegaskan PTM Dilakukan dengan Situasi Pandemi di Wilayah
Penyelenggaraan Pendidikan Selama Pandemi Tetap Prioritaskan Kesehatan & Keselamatan
Kesehatan Tetap Prioritas, Uji Coba PTM di Ibu Kota Terus Dievaluasi

(mdk/yan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.