LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JAKARTA

Harga kios Pasar Tanah Abang yang kian mencekik pedagang

Harga sewa kios tergantung pada luasan dan posisi. Selain itu, biaya sewa antarblok blok juga berbeda. Kisarannya Rp 60-80 juta. Uang itu ditambah biaya jasa pelayanan kebersihan, toilet, eskalator dan keamanan

2018-01-02 13:30:00
Pasar Tanah Abang
Advertisement

Ada ribuan pedagang yang mencari nafkah di kawasan Tanah Abang, mulai dari pedagang skala kaki lima, pedagang kecil, hingga yang bermodal besar. Para pedagang yang tak bisa menyewa kios di dalam bangunan pasar dengan sangat mahal, akan memanfaatkan ruang-ruang yang ada di luar bangunan seperti trotoar.

Nilai sewa kios termahal adalah di Blok B. Satu unit bisa mencapai belasan hingga ratusan juta per tahun tergantung luas dan lokasinya. Nilai sewa juga mengalami kenaikan tiap tahun.

Salah seorang pedagang pakaian di Blok B, Andra mengatakan kios yang ia tempati disewa Rp 85 juta per tahun. "Itu belum termasuk servis charge dan listrik yang jatuhnya Rp 1 juta per bulan," kata Andra, Jumat (29/12).

Advertisement

Untuk nilai sebesar itu, Andra mendapatkan posisi kios dekat dengan pintu masuk sebelah barat. Bisa jadi posisi strategis itu pula yang membuat harga sewanya mahal. Namun biaya itu belum termasuk bayar jasa pelayanan kebersihan, toilet, eskalator dan keamanan. Jika dihitung, kata Andra, untuk biaya sewa dan lainnya dia mengeluarkan dana Rp 100 juta lebih.

Andra mengatakan, telah berjualan di Tanah Abang sejak tiga tahun lalu. Nilai sewa juga biasanya naik tiap tahun. "Dulu awal sewa di sini Rp 80 juta," sebutnya.

Di luar biaya itu, tak ada tagihan harian atau pungli yang dilakukan oknum tertentu. Menurutnya pengelolaan pasar tersebut cukup baik. "Pungli kalau di sini enggak ada. Tertib, bersih," ujarnya.

Advertisement

Omzet dari hasil berjualan jas, barang dagangan utamanya, dalam sebulan bisa mencapai Rp 75 juta sampai Rp 100 juta per bulan atau rata-rata Rp 2,5 juta per hari. Biasanya omzet tertinggi bisa dikantongi pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu.

"Dalam sebulan omzet terendah Rp 75 juta. Kalau tertinggi Rp 100 jutaan karena konsumen saya menengah ke atas," sebutnya.

Harga sewa selangit tak jauh berbeda antarblok lainnya. Dery, pedagang Blok G Tanah Abang mengaku harus merogoh hampir Rp 65 juta per tahun. Sementara biaya servis charge yang dikeluarkan per bulan mencapai Rp 700 ribu.

"Kalau tiap bulan dibebankan biaya servis charge Rp 500 ribu dan pulsa listrik Rp 200 ribu per bulan," sebutnya.

Menurutnya, nilai servis charge tersebut sesuai dengan pelayanan yang diberikan khususnya dalam hal kebersihan. "Rutin dibersihkan tiga kali sehari mulai pagi, siang dan sore," kata pedagang busana muslim ini.

Dery mengatakan, selain luas, lokasi kios menentukan nilai sewa. Di Blok G, ada juga yang nilai sewanya hanya puluhan juta per tahun karena lokasinya yang tak strategis.

"Kalau yang paling mahal ada yang sampai Rp 500 juta, Rp 250 juta tergantung besarnya. Tiap tahun nilai sewa naik terus. Ada yang naik sampai Rp 5 juta kadang Rp 10 juta sampai Rp 15 juta," ungkap Dery.

Saat awal mulai berdagang di Tanah Abang lima tahun lalu, Dery menyewa Rp 45 juta per tahun. Kemudian tahun berikutnya naik Rp 50 juta sampai saat ini Rp 65 juta per tahun.

"Sewanya naik, yang belanja enggak ada. Tahun depan belum tahu naik apa enggak, mudahan enggak naik," harapnya.

Ia mengeluhkan sejak tiga tahun belakangan ini pendapatannya merosot. Jika sebelumnya dalam sehari ia bisa mengantongi jutaaan rupiah, sekarang hanya ratuaan ribu.

"Sekarang omzetnya sekitar Rp 500 ribu per hari. Kalau bisa dapat Rp 500 ribu itu sudah hebat. Sekarang jauh merosot," keluhnya.

Dia membandingkan dengan kondisi dengan tiga tahun lalu. "Omzet sehari Rp 3,5 juta itu sudah paling sepi. Kalau ramai pernah Rp 65 juta per hari. Ini kondisi tiga tahun lalu," kata Dery.

Menurutnya salah satu penyebab menurunnya omzet ini karena pengaruh perkembangan toko online yang kini kian ramai.

Baca juga:
Pasar Tanah Abang, nadi perekonomian Ibu Kota yang tak henti berdenyut
Soal penataan PKL ala Anies-Sandi, Menhub sebut 'Sebaiknya PKL tidak di jalan'
Kapolda Metro Jaya juga minta penutupan Jl Jatibaru Tanah Abang dikaji ulang
Ini hasil pertemuan Polda Metro dan Pemprov DKI soal penataan PKL Tanah Abang
Konsep penataan PKL dikritik, Sandiaga tantang balik
Sandiaga tegaskan tidak semua penataan PKL sama seperti Tanah Abang
Sandiaga klaim penataan Tanah Abang sudah mampu kurangi kemacetan

(mdk/lia)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.