Djarot sebut full day school tak cocok di Jakarta
Dia meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengkaji lagi sebelum diterapkan.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menilai rencana sistem full day school tidak cocok dengan budaya di Jakarta. Untuk itu, dia meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk mengkaji lagi sebelum diterapkan.
Djarot mencontohkan, satu ketidakcocokannya adalah pada umumnya orangtua di Jakarta memiliki anak lebih dari dua. Bahkan masih ditemukan orangtua yang memiliki empat anak.
"Jadi masalah seperti ini bisa dibicarakan dengan baik. Apa yang dimaksud dengan full day school, mungkin alasannya saya dengar orangtuanya sibuk, ya enggak? Pulang sekolahnya disamakan dengan jam pulang kerja orangtuanya. Ya kalau anaknya tiga bagaimana, anaknya empat bagaimana, terus sekolahnya jauh-jauh. Waduh muter ini," katanya di Ponpes Darunnajah, Ulujami, Jakarta Selatan, Selasa (9/8).
Mantan Wali Kota Blitar ini mengharapkan, sebelum diterapkan kebijakan ini terlebih dahulu dikaji dari sisi geografis dan budaya Indonesia serta adat dan istiadatnya. Terutama sekolah-sekolah negeri yang ada di pedalaman seperti di Papua, Kalimantan dan Jawa.
"Jadi begini, saya minta, pendidikan di luar negeri jangan semuanya dianggap baik. Kita harus sesuaikan dengan kultur, budaya, adat istiadat dan letak geografis kita. Cocok enggak kalau diterapkan di Papua, Kalimantan. Di Jawa saja, di Gunung Kidul misalnya, waduh rek, yang sekolahnya jauh, pulang jam 5 malem Magrib, jalan kaki sampai dua jam, waduuh, bisa enggak. Maksudnya begini, mari kita komprehensif lah masalah seperti ini," tutup Djarot.
Baca juga:
Kemendikbud sebut full day school bantu guru penuhi jam wajib ngajar
Banyak dikritik, begini penjelasan Mendikbud soal full day school
Mendikbud sebut full day school perintah presiden & baru sebatas ide
Wacana full day school, guru wajib kreatif agar siswa tak bosan
Kak Seto: Enggak usah sore, sampai siang aja anak banyak stres