Membedah Lirik Ayang-Ayang Gung, Lagu Anak-anak Sunda yang Mengkritik Pemerintah
Jika dibedah, terdapat sindiran rakyat terhadap wedana (bupati) yang tidak mengayomi masyarakat dan mementingkan diri sendiri.
Ayang-Ayang Gung jadi salah satu lagu permainan anak khas Sunda. Lagu ini biasa dinyanyikan sembari saling melingkar dan bergandengan tangan dengan menampilkan keakraban. Namun di balik iramanya yang ceria, terdapat pesan kritik kepada pemerintah.
Jika dibedah, terdapat sindiran rakyat terhadap wedana (bupati) yang tidak mengayomi masyarakat dan mementingkan diri sendiri.
Mengutip jurnal “Pemanfaatan Nyanyian Kaulinan dalam Pembelajaran Bahasa Sunda di TK, Strategi Pengembangan Karakter Berbasis Budaya Lokal”lagu permainan anak Sunda memang memiliki nilai pendidikan karakter di ranah sosial.
Ini yang kemudian menjadikan lagu Ayang-Ayang Gung memiliki pesan agar seorang pemimpin seharusnya mengedepankan sikap rendah hati dan mengayomi.
Mengkritik Bupati
Lirik lagu Sunda "Ayang-ayang Gung" ©2023 YouTube Kurnia Surgana/Merdeka.com
Merujuk Instagram @budaya.kuring, di dalam lagu itu diceritakan kekesalan dan ketidakpercayaan rakyat Sunda di masa lampau terhadap pemimpin mereka karena berkhianat. Sang bupati yang diketahui bernama Ki Mas Tanu itu ternyata mengabdi terhadap Belanda.
Lirik ini secara tegas tertuang di bait: Ayang-ayang agung—gung /gung gungna ramé—mé / ménak ki Mas Tanu—nu / anu jadi Wedana—na / naha mana kitu—tu / tukang olo-olo—lo / loba anu giruk—ruk / ruket ka kumpeni—ni / niyat jadi pangkat—kat / katon kagoréngan—ngan nana.
Dalam terjemahannya memiliki arti, "orang-orang besar, berjalan diiringi suara gong ramai. Terdapat pejabat bernama Mas Tanu yang menjadi bupati. Kenapa justru begitu? Jadi tukang adu domba, banyak yang tidak suka karena memilih ke Belanda. Berniat mencari jabatan hingga terlihat kejelekannya”
Pemimpin Menghalalkan Segala Cara Demi Pangkat
Jika diartikan, singkatnya lagu ini mewakili ketidaksukaan masyarakat Sunda kepada seorang bupati atau pimpinan tertinggi sebuah daerah yang bernama Ki Mas Tanu.
Dia menjadi sosok yang dibenci karena tidak mengayomi, dan justru mematuhi Belanda. Usut punya usut, tindakannya ini agar dirinya mendapatkan pangkat dan jabatan besar sehingga memuaskan hasratnya untuk membohongi rakyat dan meraup keuntungan.
Menurut informasi, pejabat itu mendapat ganjaran dari pemerintah kolonial karena memiliki rasa setia kepada penjajah dibanding kepada rakyat. Ia kemudian diberi hadiah jabatan pemimpin kepada keturunan-keturunannya.
Ditafsirkan bahwa seorang pemimpin seharusnya menjalankan amanah yang diminta oleh rakyatnya, untuk menjawab suatu permasalahan demi memajukan daerahnya. Namun pejabat di lagu tersebut justru melakukan tindakan sebaliknya.
Dinyanyikan Secara Ceria
Lagu ini kemudian dinyanyikan dengan ceria oleh anak-anak di sejumlah wilayah hingga sekarang. Biasanya ini dilakukan secara berkelompok, di sebuah tanah lapang atau halaman yang cukup luas.
Dalam kanal YouTube Irfan Malika, digambarkan tarian ini dengan orang-orang yang mengenakan pakaian tradisional khas Sunda dan melakukan aktivitas layaknya warga sehari-hari salah satunya menumbuk padi.
Namun yang paling umum, lagu ini dinyanyikan dengan cara bergandengan sembari mengayunkan tangan dan kaki, sesuai irama musik. Gerakannya juga harus dilakukan secara kompak dan seirama agar tetap beraturan.