Mengingat Kembali Suasana Lebaran di Bandung Zaman Hindia Belanda
Begitulah media memberitakan suasana menjelang dan pelaksanaan Lebaran di Bandung zaman Hindia Belanda.
Koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië 21-11-1938 memberitakan, perusahaan kereta api kala itu menyiapkan beberapa kereta tambahan dari Madiun ke Bandung untuk staf pribumi di perusahaan tersebut. Namun orang di luar perusahaan diberi kesempatan untuk naik.
Begitulah media memberitakan suasana menjelang dan pelaksanaan Lebaran di Bandung zaman Hindia Belanda. Seperti dilansir Antara, Senin (31/3).
Seperti era modern, Jawatan kereta api saat itu juga harus menyiapkan gerbong tambahan karena pemudik yang banyak.
Kereta tambahan itu bukan hanya ke Madiun, tapi juga ke Yogyakarta dan Batavia mengingat banyaknya penumpang pada saat Lebaran. Tertulis dalam koran De locomotief edisi 21-11-1938.
Masalah petasan juga muncul di Kota Bandung saat zaman Belanda ketika pembuat petasan menjadi korban dari barang buatannya sendiri.
Koran De Locomotief edisi 18 Februari 1931 menceritakan seorang pembuat petasan bernama Mad Kasim terluka serius di kepalanya setelah produk buatannya meledak. Ledakan itu begitu besar hingga tubuh Mad Kasim terpental.
Koran itu menyebutkan pembuatan petasan yang menelan korban itu terjadi di Cibeunying, Bandung.
“Mad Kasim tentunya menginginkan miliknya itu disumbangkan dan digunakan sendiri. Tapi alat peledak itu membuatnya terpental dan melukainya sangat serius di kepala,” sebut koran itu.
Suasana liburan Lebaran juga saat itu diisi dengan liburan ke tempat wisata di Kota Bandung, seperti diberitakan koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 11-01-1935.
Warga Bandung berbondong-bondong mengunjungi kebun binatang yang kala itu disebut derenten. Lokasinya sama dengan Taman Zoologi Bandung atau Bandung Zoo saat ini.
Koran itu menyebutkan pada 7 Januari 1935 tercatat sebanyak 1.500 orang pribumi dan 160 orang Eropa mengunjungi tempat wisata tersebut. Kemudian pada 8 Januari 1935 sebanyak 1.500 orang Eropa dan 900 orang pribumi.
Saat itu diperkirakan jumlah pengunjung akan lebih banyak lagi. Mengingat pelabuhan di Batavia menerima dua ekor kanguru serta dua ekor emus dari Perth, Australia, satu ekor anoa dari Sulawesi.
Untuk menata kebun binatang itu, pengelola melalui Dinas Pembibitan Kota kala itu telah melakukan perbaikan dan perluasan.
"Langkah-langkah untuk menyediakan tempat bermain anak-anak akan dibahas. Pengawal malam dari kebun binatang kemudian mendapat perhatian. Beberapa tindakan akan diambil. Berbagai rencana perbaikan telah disetujui," sebut koran itu.
Tradisi Open House
Koran De Sumatera Post edisi 28-05-1923 menuliskan ada alasan untuk bersuka cita.
"Hari-hari puasa yang panjang telah berlalu, sekarang orang-orang telah memenuhi kewajiban-kewajibannya, yang ditegakkan oleh agama, setidaknya dalam hal pilar ketiga Islam, dan sekarang orang-orang menyambut tahun baru (Lebaran) dengan pakaian yang bersih dan bersih."
"Pagi itu, hampir malam dan langit masih bersinar terang, banyak orang percaya berkumpul di Masjid Bandung, di mana kepala penghulu hadir dan pimpinan pemerintah (raja) Bandung, berbicara kepada orang banyak, orang banyak yang sangat besar dan sangat luas," tulis koran itu.
Setelah salat selesai, banyak orang berbaris panjang menuju kediaman pimpinan pemerintah kota dengan mengenakan pakaian berwarna-warni. Menurut kebiasaan, warga Bandung mengucapkan penghormatan kepada suami dan para pejabat, para priyayi dari semua tempat sambil berlutut.
Banyak warga pribumi yang datang untuk memberi salam dan ucapan selamat kepada pimpinan pemerintahan. Hampir setiap hari, warga berdatangan.
Pada malam itu, adalah giliran komunitas Eropa untuk memberikan ucapan selamat kepada raja dan istrinya di pusat pemerintahan. Banyak sekali pengunjung yang memanfaatkan kesempatan itu. Mengingat momen Lebaran sebagai hari yang istimewa.