Raih Keberkahan, Simak Panduan Amalan di Bulan Muharam yang Paling Utama
Berikut adalah panduan amalan utama selama bulan Muharram, seperti puasa, sedekah, dan menjalin silaturahmi, untuk mendapatkan keberkahan.
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang sangat dihormati dalam kalender Hijriyah dan memiliki berbagai keistimewaan. Sebagai bulan pertama dalam tahun baru Islam, Muharam dikenal dengan sebutan "Syahrullah" atau "bulan Allah", yang menunjukkan betapa mulianya bulan ini di hadapan-Nya. Oleh karena itu, banyak amal ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan selama bulan ini agar kita dapat memperoleh pahala yang melimpah.
Salah satu amal utama yang sangat dianjurkan di bulan Muharam adalah puasa sunnah, terutama pada hari ke-9 dan ke-10, yang dikenal sebagai Tasu'a dan Asyura. Puasa pada hari-hari tersebut diyakini memiliki keutamaan besar dalam menghapus dosa-dosa yang dilakukan selama setahun sebelumnya. Selain itu, memperbanyak sedekah, melakukan doa, menjaga silaturahmi, serta meningkatkan zikir dan istighfar juga merupakan amalan yang dianjurkan di bulan ini. Muharam adalah waktu yang tepat untuk memulai lembaran baru dengan meningkatkan kualitas ibadah dan amal sosial kita.
Artikel ini akan menyajikan panduan lengkap mengenai amalan-amalan utama di bulan Muharam. Bagi Anda yang ingin mengisi awal tahun Hijriyah dengan kegiatan spiritual yang bermakna, panduan ini sangat penting untuk diperhatikan. Mari kita mulai tahun ini dengan penuh berkah dan semangat untuk meningkatkan ibadah kita.
Puasa di Bulan Muharram
Amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Muharram adalah berpuasa, terutama pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai hari Asyura. Puasa Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar, dipercaya dapat menghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan selama setahun sebelumnya. Kesunahan berpuasa di bulan Muharram ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang menyatakan:
جاء رجل إلى النبي ضلى الله عليه وسلم فقال: أي الصيام أفضل بعد شهر رمضان؟ قال: شهر الله الذي تدعونه المحرم
Artinya, "Seseorang datang menemui Rasulullah SAW, ia bertanya, ‘Setelah Ramadhan, puasa di bulan apa yang lebih afdhal?' Nabi menjawab, ‘Puasa di Bulan Allah, yaitu bulan yang kalian sebut dengan Muharram,” (HR Ibnu Majah).
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan sebagai berikut.
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
Artinya, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan ialah puasa di bulan Allah, Muharram.”
Di samping puasa Asyura, umat Muslim juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram, yang dikenal sebagai hari Tasu'a. Hal ini bertujuan untuk membedakan amalan ini dari puasa yang dilakukan oleh kaum Yahudi, yang juga melaksanakan puasa pada hari Asyura. Dengan berpuasa pada kedua hari tersebut, umat Muslim dapat menunjukkan identitas dan kekhasan dalam menjalankan ibadah.
Selain itu, umat Muslim disarankan untuk memperbanyak puasa sunnah di hari-hari lain sepanjang bulan Muharram. Semakin banyak puasa yang dilakukan, semakin besar pahala dan keberkahan yang akan diperoleh. Puasa sunnah ini dapat dijalankan secara fleksibel, sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing individu.
Shalat dan Silaturahmi
Selain berpuasa, meningkatkan jumlah shalat juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada bulan Muharram. Selain melaksanakan shalat wajib lima waktu, umat Muslim disarankan untuk memperbanyak shalat sunnah, seperti shalat Dhuha dan Tahajud. Shalat sunnah ini berfungsi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon ampunan atas segala dosa yang telah diperbuat.
Selain itu, mempererat tali silaturahmi juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan selama bulan Muharram. Hubungan silaturahmi yang kuat dapat mendatangkan keberkahan dan memperpanjang umur. Umat Muslim disarankan untuk mengunjungi keluarga, kerabat, dan teman-teman, serta menjalin hubungan baik dengan sesama. Dengan memperkuat silaturahmi, suasana harmonis dan saling mendukung dalam kebaikan akan tercipta.
Silaturahmi tidak hanya terbatas pada kunjungan fisik, tetapi juga bisa dilakukan melalui komunikasi jarak jauh, seperti menelepon atau mengirim pesan. Yang terpenting adalah adanya niat tulus untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain. Dengan demikian, silaturahmi dapat menjadi amalan yang mudah untuk dilakukan, namun memberikan dampak yang besar dalam mempererat persaudaraan.
Sedekah dan Amalan Kebaikan Lainnya
Sedekah adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan, terutama di bulan Muharram. Amalan ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti menyumbangkan harta, tenaga, waktu, atau ilmu pengetahuan. Memberikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan tidak hanya mendatangkan pahala yang berlipat ganda tetapi juga membawa keberkahan dalam hidup. Selain sedekah, ada banyak amalan baik lainnya yang bisa dilakukan selama bulan Muharram. Beberapa di antaranya termasuk ziarah kepada ulama, menjenguk orang sakit, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, mengusap kepala anak yatim, membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali, mandi sunnah, dan menggunakan celak mata. Semua amalan tersebut merupakan bentuk ibadah yang dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Membaca doa awal tahun juga sangat dianjurkan, meskipun tidak ada hadits yang secara langsung menyebutkan doa khusus untuk tahun baru Hijriah. Doa ini dianggap sebagai sunnah yang dilakukan oleh para sahabat Nabi. Dengan melafalkan doa awal tahun, umat Muslim berharap agar diberikan keberkahan serta kemudahan dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru. Bacaan doa awal tahun Hijriyah adalah sebagai berikut, dikutip dari laman NU Online:
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘alâ fadhlikal ‘azhîmi wa karîmi jûdikal mu‘awwal. Hâdzâ ‘âmun jadîdun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ’ih, wal ‘auna ‘alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû’I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.
Artinya, “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan."