LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. GAYA

Padas Bajul, batu jelmaan siluman buaya penunggu sungai

Setiap tahunnya, selalu ada korban yang menurut warga sekitar merupakan tumbal yang dimakan oleh buaya putih.

2014-09-17 00:10:00
Wisata Jember
Advertisement

Selain pemandian Patemon yang indah sebagai obyek wisata dan mengandung unsur mistis, ada pula satu tempat yang juga memiliki sisi magis yaitu sebuah batu yang dinamakan Padas Bajul yang terletak di sebuah sungai bernama Keting.

Padas Bajul berada di sungai Keting, kecamatan Jombang, Kabupaten Jember. Nama Padas Bajul diambil dari bahasa Jawa, yaitu padas berarti batu cadas dan bajul adalah buaya.

Menurut penuturan seorang warga, tempat di mana Padas Bajul ini berada sangat wingit atau dapat dibilang angker karena dipercaya banyak makhluk gaib yang mendiami daerah tersebut.

Asal muasal Padas Bajul sendiri sampai sekarang juga masih simpang siur. Ada banyak versi yang muncul dari mitos Padas Bajul ini. Mulai dari pertikaian antara siluman penguasa di sungai Bondoyudo (Lumajang) yaitu seekor buaya besar dengan ular raksasa penunggu sungai Jatiroto (Jember) sampai dengan merupakan penjaga makam dari nenek moyang warga Desa Keting.

Kabarnya, dalam setiap tahun, selalu meminta korban dan menurut warga sekitar korban itu merupakan tumbal yang dimakan oleh buaya putih yang katanya sering memunculkan diri pada hari-hari tertentu.

Menurut penuturan seorang warga di daerah Jombang bernama Pak Edi, siluman buaya yang mendiami sungai tersebut selalu mencari mangsa dengan cara menjelma menjadi seorang kakek-kakek tua dan berpura-pura menunjukkan jalan ke seseorang yang bukan berasal dari daerah Keting dan kebetulan berada di tempat tersebut.

Jalan yang ditunjukkan tentunya bukan jalan yang sebenarnya karena arahnya langsung menuju ke sungai. Ketika sang korban telah berada di sekitar sungai, maka orang tua itu langsung berubah menjadi buaya dan memangsanya.

Bahkan, apabila diadakan suatu perlombaan memancing di sungai Bondoyudo, tidak akan ada seorang pun yang dapat menjadi pemenang atau mendapatkan ikan apabila dia bukan orang Keting asli.

Di sekitar batu berbentuk buaya yang berada di tengah-tengah sungai tersebut, terdapat banyak ikan kecil-kecil yang juga ditemui di sekitar pinggiran sungai Bondoyudo.

Baca juga:
Watu Ulo, pesona pantai mistis di selatan Jember
Fenomena air berkhasiat di Pemandian Patemon
Rahasia di balik kemurnian sumber air Patemon
Legenda cinta Dewi Rengganis dan Andi Sose di Pemandian Patemon
Butuh 7 Tahun untuk hentikan tumbal mati di Patemon

(mdk/das)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.